Sumatera Utara – di kenal sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Keberagaman tersebut lahir dari berbagai suku bangsa, seperti Batak Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, dan Nias, yang masing-masing memiliki ciri khas kesenian tersendiri. Salah satu bentuk ekspresi budaya yang masih bertahan hingga kini adalah alat musik tradisional.
Pada dasarnya, alat musik tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata. Lebih dari itu, instrumen musik daerah memiliki peran penting dalam upacara adat, ritual keagamaan, serta kegiatan sosial masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan alat musik tradisional Sumatera Utara perlu di pahami sebagai bagian dari identitas budaya yang sarat akan nilai historis dan filosofis.
Berikut ini adalah sepuluh alat musik tradisional khas Sumatera Utara yang mencerminkan kekayaan budaya daerah tersebut.

Foto: Gordang Sambilan. (Istimewa)
Gordang Sambilan
Gordang Sambilan merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Suku Batak Mandailing. Istilah “gordang” merujuk pada gendang, sedangkan kata “sambilan” berarti sembilan. Dengan demikian, Gordang Sambilan dapat di artikan sebagai seperangkat sembilan gendang yang memiliki ukuran berbeda-beda.
Perbedaan ukuran tersebut menghasilkan variasi bunyi yang khas dan harmonis. Pada awalnya, Gordang Sambilan hanya di gunakan dalam upacara adat yang bersifat sakral. Namun, seiring perkembangan zaman, penggunaannya mulai meluas ke berbagai acara umum, seperti pernikahan adat, penyambutan tamu kehormatan, dan perayaan hari besar.
Aramba
Aramba adalah alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Nias. Secara visual, alat musik ini menyerupai gong dengan tonjolan di bagian tengah sebagai pusat bunyi. Keberadaan aramba biasanya menandai di mulainya suatu prosesi adat.
Dalam tradisi masyarakat Nias, aramba sering di mainkan pada upacara pernikahan. Sementara itu, cara memainkannya tergolong sederhana, yaitu dengan memukul bagian tengah menggunakan alat pemukul kayu hingga menghasilkan suara dengungan yang kuat.
Keteng-Keteng
Keteng-keteng merupakan alat musik tradisional khas Suku Karo yang terbuat dari satu ruas bambu besar. Keunikan instrumen ini terletak pada bagian senarnya yang berasal dari irisan kulit bambu itu sendiri.
Selain memiliki konstruksi yang unik, keteng-keteng juga berfungsi sebagai pengiring utama dalam berbagai acara adat Karo. Misalnya, alat musik ini sering di mainkan dalam Gendang Guro-guro Aron maupun sebagai pengiring tarian tradisional.
Hasapi
Hasapi di kenal sebagai alat musik petik tradisional dari masyarakat Batak Toba. Alat musik ini sering di sebut sebagai kecapi Batak dan termasuk ke dalam kelompok alat musik berdawai.
Dalam praktiknya, hasapi banyak di gunakan sebagai pengiring hiburan rakyat serta pertunjukan Opera Batak. Di sisi lain, instrumen ini tidak memiliki pembatas nada pada lehernya, sehingga pemain di tuntut memiliki kepekaan musikal yang tinggi.
Sarune
Sarune merupakan alat musik tiup tradisional yang di gunakan oleh masyarakat Batak Toba dan Batak Karo. Perannya sangat penting karena berfungsi sebagai pembawa melodi utama dalam berbagai upacara adat.
Selain di mainkan dalam upacara pernikahan, sarune juga di gunakan dalam ritual kematian dan acara adat lainnya. Dengan teknik pernapasan tertentu, alat musik ini mampu menghasilkan nada yang kuat dan ekspresif.
Garantung
Garantung adalah alat musik pukul tradisional yang berkembang di kalangan masyarakat Batak Toba dan Batak Simalungun. Instrumen ini terbuat dari beberapa bilah kayu yang di susun di atas kotak resonansi.
Jumlah bilah nada pada garantung umumnya berkisar antara lima hingga tujuh buah. Selanjutnya, alat musik ini sering dimanfaatkan sebagai pengiring tarian tradisional maupun hiburan rakyat.
Sulim
Sulim merupakan seruling bambu khas Batak Toba yang memiliki enam lubang nada dan satu lubang tiupan. Cara memainkannya di lakukan dengan meniup dari samping lubang tiup.
Karakter suara yang dihasilkan cenderung lembut dan melankolis. Oleh sebab itu, sulim kerap di gunakan untuk membawakan lagu-lagu bernuansa sedih atau reflektif.
Druri Dana
Druri Dana adalah alat musik tradisional dari Nias yang di buat dari bambu yang di belah dan di bentuk sedemikian rupa agar menghasilkan getaran nada tertentu.
Pada umumnya, alat musik ini dimainkan secara berkelompok. Selain itu, druri dana sering ditampilkan dalam perayaan desa, pesta rakyat, dan festival kebudayaan sebagai simbol kebersamaan masyarakat.
Kulcapi
Kulcapi merupakan alat musik petik tradisional milik Suku Karo yang bentuknya menyerupai gitar kecil dengan dua senar. Instrumen ini banyak di gunakan dalam upacara adat maupun pertunjukan musik tradisional.
Untuk menghasilkan bunyi, kulcapi di petik menggunakan alat bantu kecil yang terbuat dari bambu. Dengan teknik petikan tertentu, alat musik ini mampu menghasilkan irama yang khas.
Gendang Singanaki
Gendang Singanaki adalah alat musik tradisional berupa gendang berkepala ganda yang berasal dari masyarakat Karo. Keunikan instrumen ini terletak pada adanya gendang kecil yang menempel pada sisi badan gendang utama.
Biasanya, Gendang Singanaki dimainkan dalam upacara adat yang bersifat sakral. Selain itu, alat musik ini juga berfungsi sebagai pengiring tarian tradisional Karo.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, alat musik tradisional Sumatera Utara mencerminkan kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, upaya pelestarian dan pengenalan alat musik daerah menjadi langkah penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat nilai kearifan lokal di tengah arus modernisasi.