Tradisi Mulud Adat Bayan di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya menghadirkan rangkaian ritual adat. Masyarakat Bayan juga menjadikan tradisi tersebut sebagai momentum untuk menjaga semangat gotong royong yang telah mereka wariskan dari generasi ke generasi.

Sehari menjelang pelaksanaan ritual adat, warga mulai berdatangan dengan membawa berbagai hasil bumi. Mereka membawa padi, umbi-umbian, beras, ketan, serta sejumlah kebutuhan lainnya untuk mendukung rangkaian Mulud Adat Bayan.

Tidak hanya hasil pertanian, masyarakat juga menyerahkan berbagai jenis hewan ternak. Warga membawa ayam, kambing, sapi, hingga kerbau secara sukarela sebagai bagian dari tradisi.

Kepala Desa Bayan, Satriadi, menjelaskan bahwa seluruh sumbangan tersebut berasal dari masyarakat. Pemangku adat maupun pemerintah desa tidak membebankan kewajiban tersebut kepada warga.

Menurut Satriadi, masyarakat secara sukarela membawa uang bolong, ayam, kambing, sapi, hingga kerbau. Partisipasi tersebut menunjukkan kuatnya keterlibatan warga dalam mempertahankan tradisi Mulud Adat Bayan.

Warga Membayar Nazar melalui Mulud Adat Bayan

Selain mendukung kebutuhan pelaksanaan tradisi, sebagian masyarakat membawa hasil bumi dan hewan ternak untuk memenuhi nazar. Ketika harapan atau permohonan mereka terwujud, warga memenuhi nazar tersebut dengan menyerahkan bahan pangan ataupun ternak.

Satriadi memberikan contoh seseorang yang sakit dan bernazar akan menyerahkan seekor kerbau dalam pelaksanaan Mulud Adat. Setelah orang tersebut sembuh, ia kemudian memenuhi nazarnya saat tradisi berlangsung.

Jumlah masyarakat yang memenuhi nazar setiap tahun cukup banyak. Menurut Satriadi, jumlahnya dapat mencapai ratusan orang.

Warga membawa beragam jenis ternak, seperti ayam, kambing, sapi, dan kerbau. Selain itu, masyarakat menyerahkan beras, ketan, uang bolong, hingga uang rupiah.

Banyaknya warga yang berpartisipasi sekaligus memperlihatkan hubungan kuat antara tradisi, keyakinan, dan kehidupan sosial masyarakat Bayan.

Mulud Adat Bayan

Foto: Suasana gotong royong memotong hewan ternak untuk diolah menjadi makanan pada Mulud Adat Bayan, Lombok Utara, NTB, Sabtu (29/8/2026)

Gotong Royong Menyiapkan Hidangan Bersama

Setelah warga mengumpulkan hasil bumi dan hewan ternak, masyarakat bersama-sama menyiapkan seluruh kebutuhan makanan di kompleks rumah adat. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Karang Bajo maupun Desa Bayan.

Warga membagi berbagai pekerjaan secara gotong royong. Sebagian masyarakat memotong hewan ternak, sementara warga lainnya membersihkan bahan makanan dan menyiapkan proses memasak.

Mereka kemudian mengolah seluruh bahan tersebut menjadi hidangan untuk makan bersama setelah rangkaian ritual puncak Mulud Adat Bayan selesai.

Satriadi mengatakan masyarakat menyediakan seluruh bahan secara swadaya. Warga juga menangani proses pemotongan, pembersihan, hingga memasak makanan secara bersama-sama.

Setelah semua rangkaian adat berakhir, masyarakat menikmati makanan tersebut bersama. Pola ini membuat gotong royong tidak hanya terlihat dalam tahap persiapan, tetapi juga hadir sampai penghujung kegiatan.

Mulud Adat Bayan Tidak Mengenal Undangan

Mulud Adat Bayan memiliki perbedaan dengan perayaan Maulid yang biasanya berlangsung di kampung-kampung. Dalam perayaan Maulid pada umumnya, panitia atau masyarakat biasanya mengundang keluarga, sahabat, dan tamu lainnya untuk menghadiri kegiatan.

Sebaliknya, masyarakat tidak menerapkan sistem undangan dalam Mulud Adat Bayan. Warga datang atas kesadaran dan kemauan sendiri untuk mengikuti rangkaian tradisi.

Menurut Satriadi, aturan adat bahkan tidak memperkenankan masyarakat mengundang tamu secara khusus. Ketentuan tersebut menjadi salah satu ciri yang membedakan Mulud Adat Bayan dengan perayaan Maulid pada umumnya.

Masyarakat Bayan mempertahankan ketentuan itu karena mereka memandang Mulud Adat sebagai bagian dari keyakinan sekaligus warisan budaya leluhur.

Melalui tradisi tersebut, warga tidak hanya mempertahankan ritual yang telah berlangsung lintas generasi. Mereka juga terus merawat nilai kebersamaan, swadaya, gotong royong, serta penghormatan terhadap warisan budaya yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bayan.