Badan Meteorologi – Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG kembali mengingatkan masyarakat mengenai potensi gelombang laut tinggi di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Peringatan ini muncul setelah tim meteorologi maritim menganalisis dinamika atmosfer dan kondisi laut yang menunjukkan peningkatan signifikan pada kecepatan angin. Akibatnya, gelombang laut di beberapa wilayah berpotensi mencapai ketinggian ekstrem hingga enam meter.
Selain itu, BMKG menempatkan Laut Natuna Utara sebagai wilayah yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Wilayah tersebut berisiko mengalami gelombang sangat tinggi dalam beberapa hari ke depan. Oleh karena itu, BMKG mendorong seluruh pelaku aktivitas laut agar meningkatkan kesiapsiagaan demi menjaga keselamatan pelayaran.

Ilustrasi ombak.(Pexels/Lachlan Ross)
Periode Waktu Potensi Gelombang Tinggi
Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa potensi gelombang laut tinggi muncul pada periode 7 hingga 10 Januari 2026. Pada rentang waktu tersebut, kondisi atmosfer dan laut menunjukkan pola yang mendukung pembentukan gelombang besar.
Selanjutnya, BMKG menilai periode ini sebagai fase kritis bagi aktivitas pelayaran dan masyarakat pesisir. Oleh sebab itu, lembaga tersebut mengajak semua pihak untuk memperhatikan perkembangan cuaca laut secara berkala melalui kanal resmi BMKG.
Faktor Utama Pemicu Kenaikan Gelombang Laut
BMKG mengaitkan peningkatan tinggi gelombang laut dengan keberadaan sistem cuaca skala besar di sekitar wilayah Indonesia. Saat ini, Siklon Tropis Jenna berkembang di Samudra Hindia bagian barat daya. Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 90W muncul di wilayah Laut Filipina.
Kedua sistem tersebut memicu percepatan angin di berbagai perairan Indonesia. Selain memperkuat hembusan angin, sistem ini juga memengaruhi arah dan pola angin regional. Akibatnya, interaksi antara angin dan permukaan laut memicu pembentukan gelombang tinggi hingga ekstrem.
BMKG mencatat bahwa angin di wilayah Indonesia bagian utara bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan sekitar 6 sampai 25 knot. Di sisi lain, wilayah selatan Indonesia mengalami hembusan angin dominan dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan yang relatif sama. Kombinasi ini kemudian membangkitkan gelombang laut dengan variasi ketinggian di berbagai perairan.
Daftar Wilayah dengan Potensi Gelombang Tinggi Menengah
BMKG memprakirakan gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di sejumlah perairan timur Indonesia. Wilayah tersebut mencakup Perairan Morotai, Perairan Halmahera, Perairan Obi, Perairan Sanana, Perairan Taliabu, Perairan Kayoa, Kepulauan Loloda, Batang Dua, Perairan Ternate, Perairan Bacan, Teluk Weda, serta Perairan Kepulauan Halmahera dan Gebe.
Selain itu, BMKG menilai aktivitas nelayan tradisional dan transportasi laut lokal di wilayah tersebut perlu menyesuaikan jadwal pelayaran dengan kondisi cuaca yang berkembang.
Wilayah dengan Ancaman Gelombang Tinggi hingga Empat Meter
BMKG juga mengidentifikasi wilayah perairan yang berpotensi mengalami gelombang lebih tinggi, yaitu antara 2,5 hingga 4 meter. Daerah tersebut meliputi Samudra Hindia selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Selain kawasan tersebut, Laut Arafura bagian tengah dan timur serta wilayah selatan Karimata bagian utara juga masuk dalam kategori rawan. Oleh karena itu, operator kapal niaga dan kapal penyeberangan perlu mengutamakan keselamatan serta mematuhi rekomendasi pelayaran dari otoritas terkait.
Laut Natuna Utara Jadi Fokus Utama Peringatan
BMKG secara khusus menyoroti Laut Natuna Utara karena potensi gelombang sangat tinggi mencapai 4 hingga 6 meter. Kondisi ini berisiko besar terhadap stabilitas kapal, terutama kapal kecil dan menengah.
Gelombang setinggi ini dapat meningkatkan kemungkinan kecelakaan laut jika pelaku pelayaran mengabaikan peringatan cuaca. Oleh karena itu, BMKG mengimbau nelayan, operator kapal, serta masyarakat pesisir agar menunda aktivitas laut selama kondisi ekstrem masih berlangsung.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG juga menganjurkan pemantauan informasi cuaca laut secara rutin. Dengan demikian, masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat dan mengurangi risiko kerugian maupun kecelakaan di laut.