Beijing – terus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata global yang kompetitif. Selain berperan sebagai pusat politik dan budaya Tiongkok, kota ini juga menawarkan kemudahan bagi wisatawan internasional. Menurut Waad Melliti, Manajer Bisnis Senior World Tourism Cities Federation (WTCF), Beijing termasuk kota yang paling mudah dijelajahi oleh pengunjung dari berbagai negara.

Lebih lanjut, Melliti menjelaskan bahwa wisatawan tidak perlu menguasai bahasa Mandarin untuk menikmati kota ini. Sebaliknya, keterbukaan pikiran dan kesiapan untuk beradaptasi justru menjadi faktor utama. Oleh karena itu, Beijing mampu menarik perhatian wisatawan global. Sebagai bukti, National Geographic menempatkan Beijing dalam daftar kota terbaik untuk dikunjungi pada 2026. Pengakuan ini menegaskan keberhasilan Beijing dalam mengintegrasikan sejarah, budaya, dan pariwisata.

Pemandangan kota Beijing dengan gedung-gedung modern dan sejarah.

Menara Genderang, yang terletak di dekat kantor Melliti di sepanjang Poros Tengah Beijing, China.

Sejarah sebagai Bagian dari Ruang Hidup Kota

Beijing menawarkan pengalaman sejarah yang unik dibandingkan kota besar lain. Pada kenyataannya, sejarah tidak hanya tersimpan di museum, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bangunan kuno, gerbang bersejarah, dan jalan lama berdampingan dengan aktivitas modern.

Menurut Melliti, Beijing merupakan kota di mana sejarah terasa hidup. Dengan kata lain, pengunjung tidak perlu mencarinya secara aktif. Batu jalanan dan struktur lama menyampaikan kisah dinasti masa lalu. Akibatnya, wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih mendalam dan personal. Sementara itu, nuansa historis tersebut tetap menyatu dengan perkembangan kota yang dinamis.

Hutong dan Dinamika Kehidupan Tradisional

Salah satu daya tarik utama Beijing terletak pada hutong. Secara khusus, gang-gang tradisional ini merepresentasikan kehidupan masyarakat lokal yang masih menjunjung nilai kebersamaan. Melliti menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap kawasan ini karena suasananya yang autentik.

Ketika pengunjung berjalan kaki atau bersepeda di hutong, mereka dapat merasakan ritme hidup yang lebih lambat. Selain itu, interaksi sosial antarwarga menciptakan rasa komunitas yang kuat. Kawasan sekitar Menara Genderang di Poros Tengah Beijing menjadi tempat favorit Melliti. Di sana, ia kerap menikmati kopi di kafe lokal. Pada saat yang sama, ia mengamati arsitektur tradisional dan perubahan cahaya menjelang senja.

Kuliner Lokal sebagai Pendukung Daya Tarik Wisata

Tidak hanya budaya dan sejarah, namun juga sektor kuliner memperkuat daya tarik Beijing. Jajanan kaki lima tersebar luas dan mudah dijangkau. Tanghulu, baozi, jianbing, dan wandouhuang menjadi contoh makanan yang populer di berbagai kalangan.

Selain menawarkan cita rasa khas, aroma makanan dari pedagang jalanan sering menarik perhatian pejalan kaki. Lebih jauh lagi, pertumbuhan sektor restoran menghadirkan beragam pilihan kuliner. Wisatawan dapat menyesuaikan pengalaman makan dengan preferensi pribadi. Dengan demikian, pengalaman wisata menjadi lebih fleksibel dan inklusif. Tak kalah penting, kemampuan komunikasi dasar dalam bahasa Inggris turut membantu wisatawan asing.

Infrastruktur dan Kebijakan yang Mendukung Wisatawan

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Tiongkok mendorong peningkatan kualitas layanan pariwisata. Sebagai hasilnya, Beijing mengalami kemajuan signifikan dalam infrastruktur publik. Transportasi umum menjadi lebih mudah digunakan oleh wisatawan asing.

Di samping itu, sistem pembayaran digital kini mendukung kartu internasional. Aplikasi seperti Alipay dan WeChat Pay dapat digunakan secara luas. Oleh sebab itu, transaksi menjadi lebih praktis. Bandara-bandara di Beijing juga menyediakan layanan terpadu. Dengan layanan tersebut, wisatawan dapat memperoleh nomor telepon lokal dan mengakses kereta bawah tanah secara langsung.

Data resmi menunjukkan peningkatan jumlah penumpang pada 2025. Secara keseluruhan, jumlahnya melampaui 20 juta orang. Menariknya, wisatawan asing menyumbang sekitar 30 persen dari total tersebut. Hal ini menunjukkan pemulihan dan pertumbuhan pariwisata yang kuat.

Beijing sebagai Contoh Kota Pariwisata Berkelanjutan

Bagi Melliti, Beijing mendekati gambaran kota wisata ideal. Pasalnya, kota ini bergerak cepat, terkelola dengan baik, dan terus berinovasi. Selain itu, kekayaan budaya seperti Opera Beijing menambah nilai pengalaman wisata. Kostum, tata rias, dan gerakan dalam pertunjukan tersebut mengandung makna simbolis yang mendalam.

Lebih lanjut, Melliti melihat kesamaan nilai budaya antara Tiongkok dan Tunisia, terutama dalam tradisi kuliner yang menekankan kebersamaan. Sebagai contoh, hotpot mencerminkan pengalaman sosial yang kolektif. Dengan demikian, Beijing tidak hanya menawarkan destinasi fisik, tetapi juga pengalaman budaya yang bersifat universal.

Melalui WTCF, Melliti berupaya memperkuat konektivitas kota-kota pariwisata dunia. Pada akhirnya, Beijing berperan penting dalam memperkenalkan kota-kota di Tiongkok kepada wisatawan internasional. Dengan kombinasi sejarah, modernitas, dan kebijakan yang adaptif, Beijing terus berkembang sebagai kota wisata global yang berkelanjutan.