Indonesia – terus memperkuat agenda transisi energi untuk mencapai ketahanan energi jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku industri energi menempatkan energi panas bumi sebagai pilar utama pengembangan energi terbarukan. Dalam konteks tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memegang peran strategis sebagai pengembang panas bumi nasional.
Sepanjang 2025, PGE secara konsisten mempercepat pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi. Selain mendorong peningkatan kapasitas pembangkit, PGE juga memperluas kontribusi pada ekosistem energi bersih global. Dengan demikian, PGE tidak hanya mendukung target nasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi terbarukan dunia.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).
Strategi Pengembangan sebagai Fondasi Pertumbuhan
Sepanjang tahun 2025, PGE menjadikan capaian operasional dan strategis sebagai fondasi pengembangan jangka panjang. Oleh karena itu, manajemen PGE mengarahkan strategi perusahaan pada percepatan kapasitas, penguatan kolaborasi, serta penciptaan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Selain itu, PGE mengintegrasikan percepatan proyek prioritas dengan optimalisasi potensi panas bumi nasional. Dengan pendekatan ini, PGE mampu menjalankan pengembangan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan. Sejalan dengan itu, perusahaan juga memastikan setiap proyek mendukung ketahanan energi sekaligus agenda transisi energi nasional.
Peningkatan Kapasitas Terpasang dan Kinerja Operasional
Sejalan dengan target kapasitas 1 gigawatt (GW), PGE menunjukkan kemajuan nyata di sisi operasional. Pada akhir Juni 2025, PGE mengoperasikan PLTP Lumut Balai Unit 2 dengan kapasitas 55 megawatt (MW). Dengan demikian, kapasitas terpasang PGE meningkat dari 672 MW menjadi 727 MW.
Selain memperbesar kapasitas produksi, langkah ini juga memperkuat posisi PGE sebagai pengembang panas bumi terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan PGE menuju target jangka panjang perusahaan.
Penguatan Kolaborasi dan Proyek Strategis Nasional
Selain fokus pada operasional, PGE juga memperluas kontribusi terhadap swasembada energi melalui kolaborasi strategis. Pada Agustus 2025, PGE menandatangani Heads of Agreement bersama PLN Indonesia Power dengan fasilitasi Danantara Indonesia. Melalui kesepakatan ini, PGE dan mitra mengembangkan 19 proyek panas bumi dengan total kapasitas 530 MW.
Lebih lanjut, PGE berhasil memasukkan empat proyek strategis ke dalam Blue Book Bappenas periode 2025–2029. Dengan masuknya proyek tersebut, PGE membuka akses pembiayaan internasional hingga USD 613 juta. Oleh sebab itu, PGE dapat mempercepat realisasi proyek panas bumi berskala besar secara lebih terencana.
Diversifikasi Panas Bumi melalui Green Hydrogen
Di samping pengembangan kelistrikan, PGE juga memperluas pemanfaatan panas bumi ke sektor non-listrik. Pada Agustus 2025, PGE meluncurkan Pilot Project Green Hydrogen di Ulubelu, Lampung. Melalui proyek ini, PGE memulai pengembangan ekosistem hidrogen hijau secara terintegrasi.
Selanjutnya, PGE menghubungkan proses produksi, distribusi, dan pemanfaatan green hydrogen dalam satu rantai nilai. Dengan memanfaatkan panas bumi sebagai sumber energi utama, PGE mendorong pengembangan industri rendah karbon. Oleh karena itu, inisiatif ini memperkuat kontribusi panas bumi dalam mendukung transisi energi nasional.
Pengembangan Green Data Center Berbasis Panas Bumi
Selain green hydrogen, PGE juga mengembangkan konsep green data center berbasis energi panas bumi. Untuk merealisasikan inisiatif ini, PGE menandatangani Nota Kesepahaman dan Framework Agreement bersama Indonesia Data Center Provider Organization serta Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Melalui kolaborasi tersebut, PGE membangun fondasi infrastruktur digital yang berkelanjutan. Sementara itu, kebutuhan energi sektor digital terus meningkat. Oleh karena itu, pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi data center memberikan solusi strategis yang ramah lingkungan.
Portofolio Proyek dan Target Jangka Panjang
Saat ini, PGE menggarap berbagai proyek strategis dengan target commercial operation date bertahap hingga 2029. Proyek tersebut mencakup PLTP Hululais Unit 1 dan 2, PLTP Lumut Balai Unit 3, PLTP Lahendong Unit 7 dan 8, Bottoming Unit 2, serta eksplorasi PLTP Gunung Tiga.
Dengan portofolio tersebut, PGE menargetkan kapasitas 1 GW dalam dua hingga tiga tahun dan 1,8 GW pada 2033. Selain itu, PGE menyelaraskan seluruh proyek dengan target Net Zero Emission 2060. Dengan demikian, PGE memperkuat perannya dalam mendukung swasembada energi nasional secara berkelanjutan.
Komitmen ESG dan Pengakuan Keberlanjutan
Komitmen PGE terhadap keberlanjutan tercermin melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Pada 2025, Sustainalytics menempatkan PGE sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia dalam daftar ESG Top-Rated Company dengan skor 7,1 dan kategori Negligible Risk.
Selain itu, PGE juga mempertahankan kinerja lingkungan yang unggul di area operasional. Area Kamojang meraih PROPER Emas untuk ke-14 kali berturut-turut, sementara Area Ulubelu meraih PROPER Emas untuk ketiga kalinya. Oleh karena itu, PGE menunjukkan konsistensi dalam mengelola panas bumi secara bertanggung jawab.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, PGE mempercepat pengembangan energi panas bumi melalui peningkatan kapasitas, penguatan kolaborasi, serta diversifikasi pemanfaatan energi bersih. Dengan strategi yang terintegrasi, PGE mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi energi. Pada akhirnya, PGE menegaskan perannya sebagai penggerak utama energi panas bumi Indonesia menuju masa depan rendah karbon.