Buah durian – selalu memunculkan respons beragam di masyarakat. Sebagian orang menghindarinya karena aroma yang tajam. Namun, bagi penggemarnya, durian justru memiliki daya tarik tersendiri. Indonesia dikenal memiliki banyak varietas durian dengan karakter unik. Salah satu yang paling berbeda adalah durian merah dari Banyuwangi.

Durian merah Banyuwangi memiliki ciri yang tidak di temukan pada durian lain. Warna daging buahnya merah, rasanya khas, dan aromanya kuat. Keunikan inilah yang mendorong pemerintah menetapkannya sebagai Produk Indikasi Geografis (IG). Penetapan ini menjadikan durian merah Banyuwangi sebagai durian merah pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat IG.

Proses Panjang Penetapan Indikasi Geografis

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mulai mengajukan pendaftaran Indikasi Geografis durian merah sejak 2023. Proses tersebut tidak berlangsung singkat. Tim harus melewati tahapan administrasi, kajian ilmiah, serta verifikasi lapangan.

Seluruh tahapan bertujuan membuktikan keterkaitan kualitas durian merah dengan wilayah asalnya. Setelah proses panjang tersebut, sertifikat Indikasi Geografis akhirnya diterbitkan.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan bahwa terbitnya sertifikat IG menjadi pencapaian penting bagi daerah. Ia menegaskan bahwa pengakuan ini menjadi yang pertama untuk durian merah di Indonesia.

Status IG memberikan perlindungan hukum bagi produk lokal. Perlindungan ini mencegah penggunaan nama durian merah Banyuwangi oleh pihak yang tidak berhak.

Durian merah Banyuwangi resmi menjadi produk indikasi geografis pertama di Indonesia

Durian merah Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: Pemkab Banyuwangi

Keunikan Warna dan Karakter Rasa

Ciri utama durian merah Banyuwangi terletak pada warna daging buahnya. Warna merah tersebut tampak mencolok dan berbeda dari durian pada umumnya. Selain warna, durian ini memiliki rasa yang kompleks dan seimbang.

Rasa manis berpadu dengan gurih dan sedikit pahit. Aroma durian merah juga tergolong kuat, tetapi memiliki karakter khas. Keunikan ini muncul dari faktor alam Banyuwangi.

Kondisi tanah, iklim, dan ketinggian wilayah memengaruhi kualitas buah. Faktor tersebut berpadu dengan teknik budidaya tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Ilham Juanda, menjelaskan bahwa petani lokal memahami karakter durian merah sejak lama. Mereka menjaga pola tanam dan perawatan agar kualitas buah tetap konsisten.

Durian Merah Termasuk Varietas Langka

Durian merah Banyuwangi termasuk jenis durian langka. Hingga kini, hanya enam pohon induk yang terdaftar dalam skema Indikasi Geografis. Keenam pohon tersebut bernama balqis, SOJ, gandrung, sayu wiwit, tawangalun, dan madu blambangan.

Setiap pohon memiliki ciri rasa yang sedikit berbeda. Namun, semuanya tetap mempertahankan karakter durian merah Banyuwangi. Rata-rata produksi dari satu pohon mencapai sekitar empat ton.

Sejak 2015, Banyuwangi telah mendaftarkan 12 jenis durian lokal sebagai varietas unggul. Dari jumlah tersebut, enam di antaranya merupakan durian merah. Data ini menunjukkan potensi besar hortikultura lokal Banyuwangi.

Peran Petani dan Masyarakat Lokal

Setelah penetapan Indikasi Geografis, Dinas Pertanian Banyuwangi menyerahkan sertifikat IG kepada Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Durian Merah Banyuwangi. Penyerahan dilakukan di Kecamatan Songgon, salah satu sentra durian merah.

MPIG berperan menjaga standar kualitas produk. Organisasi ini juga mengawasi penggunaan nama durian merah Banyuwangi. Selain itu, MPIG memastikan praktik budidaya tetap sesuai ketentuan IG.

Keterlibatan masyarakat menjadi kunci perlindungan Indikasi Geografis. Petani tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai penjaga kualitas dan keaslian produk.

Dampak IG bagi Pengembangan Hortikultura Banyuwangi

Status Indikasi Geografis memberi dampak positif bagi pengembangan durian merah. Nilai jual produk meningkat seiring pengakuan resmi. Akses pasar juga semakin terbuka, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Selain itu, IG mendorong pertanian berkelanjutan. Petani terdorong menjaga lingkungan dan mempertahankan varietas lokal. Teknik budidaya tradisional tetap dipertahankan agar karakter durian tidak berubah.

Pengakuan ini menempatkan durian merah Banyuwangi sebagai komoditas strategis. Buah ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga merepresentasikan kekayaan hayati dan budaya pertanian lokal Banyuwangi.