Morge Siwe – Masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, kembali menggelar tradisi Midang Morge Siwe dalam rangka merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Pantai Love, tepian Sungai Komering, Kayu Agung, dan menjadi momen penting bagi warga untuk berkumpul bersama keluarga.
Tradisi ini selalu menarik perhatian masyarakat, termasuk para perantau yang pulang kampung saat Lebaran. Mereka memanfaatkan momen ini untuk menikmati suasana budaya sekaligus mempererat hubungan sosial.
Makna Filosofis Midang Morge Siwe bagi Masyarakat Kayu Agung
Midang Morge Siwe memiliki arti yang kuat bagi masyarakat lokal. Kata “midang” menggambarkan aktivitas berjalan kaki atau berarak-arakan, sedangkan “morge siwe” merujuk pada sembilan marga asli pembentuk wilayah Kayu Agung.
Kesembilan marga tersebut meliputi Kayu Agung Asli, Perigi, Kutaraya, Kedaton, Jua-Jua, Sidakersa, Mangunjaya, Paku, dan Sukadana. Melalui tradisi ini, masyarakat mengenang asal-usul mereka sekaligus menjaga identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi ini juga mencerminkan nilai kebersamaan, solidaritas, dan rasa hormat terhadap leluhur. Nilai-nilai tersebut terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat hingga saat ini.

Tradisi Midang Morge Siwe di OKI.
Pelaksanaan Tradisi dengan Nuansa Adat yang Kuat
Para pemuda dan pemudi mengambil peran penting dalam pelaksanaan Midang Morge Siwe. Mereka mengenakan busana adat pernikahan yang di kenal sebagai Mabang Handak, lalu berjalan mengelilingi kota Kayu Agung.
Arak-arakan berlangsung di sepanjang Sungai Komering dan diiringi musik tradisional tanjidor. Suasana meriah langsung terasa saat masyarakat berkumpul untuk menyaksikan prosesi tersebut.
Tradisi ini biasanya berlangsung pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri, yang di kenal sebagai Midang Bebuke. Waktu tersebut menjadi momen yang tepat karena masyarakat masih merayakan suasana Lebaran.
Pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Pemerintah telah menetapkan Midang Morge Siwe sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Pengakuan ini menunjukkan nilai penting tradisi tersebut dalam menjaga kekayaan budaya nasional.
Sekretaris Daerah Sumatera Selatan, Edward Candra, mengapresiasi masyarakat dan pemerintah daerah yang terus menjaga tradisi ini. Ia menilai Midang Morge Siwe sebagai simbol kebanggaan yang mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat memainkan peran utama dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut. Tanpa partisipasi aktif warga, tradisi ini sulit bertahan hingga saat ini.
Potensi Besar sebagai Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif
Midang Morge Siwe tidak hanya berfungsi sebagai tradisi budaya, tetapi juga memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata. Pemerintah daerah melihat peluang untuk menjadikan kegiatan ini sebagai daya tarik wisata unggulan.
Dengan pengemasan yang lebih kreatif dan inovatif, tradisi ini dapat menarik wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Langkah ini juga dapat meningkatkan sektor ekonomi kreatif di wilayah OKI.
Pemerintah mendorong pengembangan acara agar lebih menarik tanpa menghilangkan nilai tradisional yang menjadi ciri khasnya. Upaya ini diharapkan mampu memperluas dampak positif bagi masyarakat.
Peran Aktif Masyarakat dalam Pelestarian Tradisi
Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, mengajak masyarakat untuk terus menjaga tradisi Midang Morge Siwe sebagai bagian dari identitas daerah. Ia menilai tradisi ini mampu menghadirkan rasa kebanggaan sekaligus mempererat hubungan sosial.
Banyak warga yang pulang kampung secara khusus untuk menyaksikan tradisi ini. Kehadiran mereka menunjukkan kuatnya ikatan emosional terhadap budaya lokal.
Selain itu, pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga ketertiban dan keselamatan selama pelaksanaan kegiatan. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan acara ini.
Kesimpulan: Midang Morge Siwe Perkuat Budaya dan Kebersamaan
Tradisi Midang Morge Siwe menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat Kayu Agung.
Nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur terus menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan tradisi ini. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, Midang Morge Siwe memiliki peluang besar untuk berkembang lebih luas.
Ke depan, tradisi ini berpotensi menjadi ikon wisata budaya yang mampu menarik perhatian nasional maupun internasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.