Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) – mengingatkan masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau 2026. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang di bandingkan kondisi normal.
Menurutnya, pola iklim yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa curah hujan akan berada di bawah rata-rata klimatologis dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.
Musim Kemarau Datang Lebih Cepat dari Biasanya
BMKG memprediksi musim kemarau akan mulai berlangsung secara bertahap sejak April hingga Juni 2026. Wilayah timur Indonesia menjadi daerah pertama yang merasakan perubahan ini sebelum meluas ke wilayah lainnya.
Beberapa daerah yang di perkirakan mengalami kemarau lebih awal meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, serta sebagian wilayah Pulau Jawa, terutama di kawasan pesisir. Setelah itu, kondisi kering akan meluas ke wilayah dataran tinggi Jawa dan Sumatera bagian selatan.
Percepatan musim kemarau ini membuat durasi musim kering menjadi lebih panjang. Hal ini tentu memengaruhi berbagai sektor, termasuk pertanian, ketersediaan air, dan potensi bencana lingkungan.

Api membakar hutan dan lahan gambut di jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa (15/10/2019).
El Nino Perkuat Kondisi Kekeringan
Selain faktor musiman, BMKG juga memperkirakan munculnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun 2026. Fenomena ini di prediksi berada pada kategori lemah hingga moderat, namun tetap berpotensi memperkuat kondisi kekeringan di Indonesia.
Kondisi El Nino biasanya mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Dengan adanya fenomena ini, puncak musim kemarau di perkirakan akan terjadi pada bulan Agustus.
Pada periode tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami kondisi kering yang lebih intens di bandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Wilayah Rawan Karhutla Perlu Waspada
BMKG mengidentifikasi beberapa wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan. Wilayah tersebut umumnya berada di bagian selatan garis khatulistiwa.
Provinsi yang berpotensi terdampak signifikan meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Daerah-daerah ini memiliki karakteristik lahan yang rentan terbakar saat musim kemarau berlangsung.
Peningkatan suhu dan berkurangnya kelembapan udara dapat mempercepat penyebaran api jika terjadi kebakaran. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.
Hujan Masih Mungkin Terjadi dengan Intensitas Rendah
Meskipun memasuki musim kemarau, hujan tetap dapat terjadi di beberapa wilayah. Namun, intensitas curah hujan diperkirakan tidak akan tinggi.
BMKG menyebutkan bahwa curah hujan selama musim kemarau umumnya berada di bawah 150 milimeter per bulan. Kondisi ini tetap dikategorikan sebagai musim kering meskipun masih terdapat hujan ringan.
Faktor ini perlu diperhatikan oleh sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air agar dapat menyesuaikan strategi produksi dan distribusi air.
Dampak terhadap Ketahanan Pangan dan Sumber Daya Air
Musim kemarau yang lebih panjang berpotensi memengaruhi ketahanan pangan nasional. Kekeringan dapat mengganggu produksi pertanian, terutama pada daerah yang bergantung pada curah hujan.
Selain itu, pengelolaan waduk dan sumber daya air menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan air tetap terjaga untuk kebutuhan irigasi, konsumsi, dan industri.
Langkah mitigasi yang tepat sangat diperlukan untuk mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi.
Kesimpulan: Kesiapsiagaan Jadi Kunci Utama
Prediksi musim kemarau 2026 menunjukkan adanya potensi peningkatan risiko kekeringan dan karhutla di Indonesia. BMKG mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan langkah mitigasi sejak dini.
Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat harus bekerja sama dalam menghadapi kondisi ini. Dengan perencanaan yang matang dan tindakan preventif, dampak musim kemarau dapat di minimalkan.
Kewaspadaan terhadap perubahan iklim dan pola cuaca menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas lingkungan, ekonomi, dan ketahanan pangan nasional.