Harga minyak – dunia bergerak relatif stabil pada akhir pekan pertama Februari 2026. Stabilitas ini muncul seiring perhatian pasar global yang tertuju pada perkembangan pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat terkait program nuklir Teheran. Investor menilai dinamika geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor utama yang memengaruhi arah harga minyak dalam jangka pendek.

Pada perdagangan Jumat, harga minyak acuan internasional mencatat penguatan moderat. Minyak Brent naik 0,74 persen ke level USD 68,05 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,41 persen ke posisi USD 63,55 per barel. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang menimbang potensi risiko pasokan dan peluang meredanya ketegangan geopolitik.

Dinamika Negosiasi Iran dan Amerika Serikat

Iran dan Amerika Serikat menggelar pembicaraan melalui mediasi Oman untuk membahas program nuklir Iran. Pertemuan ini bertujuan menjembatani perbedaan tajam antara kedua negara, meskipun sejak awal muncul ketidakpastian mengenai agenda utama yang akan dibahas.

Pemerintah Iran menegaskan fokus pembicaraan pada isu nuklir, sementara Amerika Serikat mendorong pembahasan yang lebih luas, termasuk program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan. Perbedaan sudut pandang tersebut memicu kekhawatiran investor karena berpotensi memperpanjang ketegangan diplomatik.

Menurut Phil Flynn, analis dari Price Futures Group, pasar menghadapi ketidakpastian tinggi menjelang pekan berikutnya. Ia menilai risiko eskalasi konflik masih terbuka, sehingga pelaku pasar belum berani mengambil posisi agresif. Sikap ini membuat harga minyak bergerak dalam rentang terbatas.

Harga minyak dunia menguat di tengah negosiasi nuklir AS dan Iran

Harga minyak stabil pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026.

Peran Strategis Selat Hormuz bagi Pasokan Minyak Global

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memiliki implikasi besar terhadap pasokan energi global, khususnya karena sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini menjadi arteri utama ekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar internasional.

Sejumlah negara produsen minyak utama, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, menyalurkan sebagian besar ekspor minyak mentah mereka melalui selat tersebut. Iran sebagai anggota OPEC juga bergantung pada jalur yang sama. Oleh karena itu, setiap peningkatan ketegangan di kawasan ini berpotensi mengganggu aliran pasokan dan memicu lonjakan harga minyak.

Sebaliknya, apabila prospek diplomasi membaik dan risiko konflik mereda, pasar memperkirakan harga minyak dapat kembali mengalami tekanan penurunan.

Tekanan Pasar dari Aksi Jual dan Risiko Kelebihan Pasokan

Selain faktor geopolitik, pasar minyak juga menghadapi tekanan dari sisi pasokan global. Ekspor minyak Kazakhstan diperkirakan turun signifikan pada bulan ini akibat pemulihan bertahap ladang minyak Tengiz setelah kebakaran di fasilitas pembangkit listrik pada Januari. Penurunan ekspor melalui jalur utama yang melewati Rusia ini turut memengaruhi keseimbangan pasokan regional.

Namun demikian, analis mencatat bahwa tekanan utama harga minyak secara mingguan justru datang dari aksi jual yang meluas di pasar. Kekhawatiran akan kelebihan pasokan tetap membayangi sentimen investor, terutama di tengah melambatnya pertumbuhan permintaan global.

Arab Saudi juga mengambil langkah strategis dengan memangkas harga jual resmi minyak mentah Arab Light ke pasar Asia untuk pengiriman Maret. Penurunan ini menjadi yang keempat berturut-turut dan membawa harga ke level terendah dalam hampir lima tahun. Kebijakan tersebut memperkuat persepsi pasar mengenai ketatnya persaingan di tengah pasokan yang melimpah.

Volatilitas Harga Minyak dan Respons Investor

Sebelum mencatat stabilitas pada Jumat, harga minyak sempat melemah hampir tiga persen pada perdagangan Kamis. Penurunan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati jadwal pembicaraan, yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak Iran.

Pada hari tersebut, harga Brent turun 2,75 persen menjadi USD 67,55 per barel, sementara WTI melemah 2,84 persen ke level USD 63,29 per barel. Pasar merespons positif peluang dialog diplomatik, meskipun tetap menyimpan keraguan terhadap hasil akhir pembicaraan.

Analis menilai volatilitas harga minyak saat ini mendorong investor untuk mengamankan harga melalui kontrak berjangka. Aktivitas lindung nilai meningkat tajam, tercermin dari rekor perdagangan kontrak WTI Midland di Houston pada Januari. Investor berupaya mengantisipasi risiko pasokan dari Timur Tengah serta potensi tambahan pasokan dari Venezuela ke Pantai Teluk Amerika Serikat.

Pergerakan harga minyak dunia pada awal Februari 2026 mencerminkan keseimbangan rapuh antara risiko geopolitik dan faktor fundamental pasar. Pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat membuka peluang diplomasi, namun perbedaan agenda dan ketegangan regional tetap menciptakan ketidakpastian. Di sisi lain, tekanan dari aksi jual dan ekspektasi kelebihan pasokan membatasi ruang kenaikan harga. Dalam jangka pendek, pasar minyak diperkirakan tetap bergerak volatil sambil menunggu kejelasan arah diplomasi dan dinamika pasokan global.