Para ilmuwan – mengidentifikasi spesies dinosaurus baru yang hidup di wilayah New Mexico, Amerika Serikat. Peneliti menyebut hewan purba itu sebagai sapi raksasa. Julukan tersebut muncul karena karakteristiknya mirip sapi. Meskipun demikian, spesies itu bukan sapi sejati. Para ahli menggolongkannya sebagai dinosaurus berparuh bebek atau hadrosaurid. Spesies tersebut hidup sekitar 75 juta tahun lalu. Temuan ini memberi wawasan penting bagi dunia paleontologi.
Ilmuwan menamai dinosaurus itu Ahshislesaurus wimani. Para peneliti memperkirakan spesies ini memiliki kepala datar. Selain itu, dinosaurus ini mempunyai jambul tulang di bagian bawah moncong. Bentuk anatomi tersebut menunjukkan ciri unik. Oleh sebab itu, ahli menetapkannya sebagai spesies tersendiri. Penelitian ini membuka pemahaman baru tentang keanekaragaman dinosaurus pemakan tumbuhan.

Rekonstruksi kehidupan Ahshislesaurus wimani berdasarkan holotipe dan spesies yang berkerabat dekat.(Sergey Krasovskiy)
Keragaman Hadrosaurid pada Periode Cretaceous
Hasil penelitian memperlihatkan keragaman tinggi pada kelompok hadrosaurid. Hadrosaurid hidup selama 20 juta tahun terakhir periode Cretaceous. Periode tersebut berlangsung antara 66 hingga 145 juta tahun lalu. Selanjutnya, ilmuwan menemukan persebaran tumpang tindih di antara berbagai spesies hadrosaurid. Temuan ini membuktikan kompleksitas evolusi dinosaurus pemakan tumbuhan.
Hadrosaurid merupakan dinosaurus pemakan tumbuhan berukuran besar. Mereka mendominasi ekosistem New Mexico utara pada zaman purba. Paleontolog dari Harrisburg University of Science and Technology, Steven Jasinski, menjelaskan metafora sapi-sapi Cretaceous. Menurutnya, kelompok dinosaurus ini hidup berkelompok. Akibatnya, mereka terlihat jelas di lingkungan sekitarnya. Namun, peneliti tetap menilai metafora tersebut secara hati-hati. Semua data ilmiah menjadi dasar utama.
Para ahli menyatakan bahwa Ahshislesaurus wimani dapat tumbuh hingga 12 meter. Dengan ukuran tersebut, spesies ini termasuk dinosaurus besar. Ilmuwan meneliti fosilnya sejak 1916. Awalnya, peneliti mengkategorikannya sebagai anggota genus Kritosaurus. Akan tetapi, seiring perkembangan ilmu, peneliti mengevaluasi ulang temuan lama. Proses ini lazim dalam penelitian paleontologi.
Evaluasi Ulang Fosil untuk Penetapan Spesies Baru
Ilmuwan terus meninjau kembali fosil-fosil lama. Setiap evaluasi menghadirkan informasi segar. Dalam penelitian terbaru, peneliti meninjau tengkorak tidak lengkap. Selain itu, peneliti memeriksa tulang rahang bawah. Selanjutnya, ahli juga meneliti beberapa ruas tulang belakang. Fosil-fosil tersebut berasal dari Formasi Kirtland, New Mexico. Kini, Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian menyimpan semua spesimen itu.
Anthony Fiorillo, direktur eksekutif Museum Sejarah Alam dan Sains New Mexico, menjelaskan metode ilmiah dalam membedakan spesies. Menurutnya, peneliti menjadikan tengkorak sebagai dasar utama. Tengkorak memberi informasi lebih akurat. Dibandingkan tulang kaki, tengkorak memiliki bobot ilmiah lebih besar. Oleh karena itu, peneliti memusatkan perhatian pada bagian kepala fosil.
Tim peneliti membandingkan tengkorak Ahshislesaurus wimani dengan spesies hadrosaurid lain. Kemudian, mereka menemukan perbedaan anatomi yang jelas. Selanjutnya, ciri-ciri unik itu memenuhi syarat ilmiah. Akhirnya, peneliti menetapkan dinosaurus ini sebagai spesies baru. Proses perbandingan ini menggunakan pendekatan modern. Data ilmiah terbaru mendukung semua kesimpulan.
Hubungan Dekat dengan Kritosaurus
Ahshislesaurus wimani memiliki hubungan evolusi dekat dengan genus Kritosaurus. Hubungan tersebut menandakan pemisahan garis keturunan lebih awal. Meskipun demikian, Kritosaurus tetap menjadi genus valid. Kedua spesies berkembang secara terpisah. Oleh sebab itu, peneliti tidak menghapus klasifikasi lama. Mereka hanya menyempurnakan pemahaman.
Paleontolog dari Penn State University Lehigh Valley, Edward Malinzak, menegaskan pentingnya peninjauan ulang spesimen. Ia menjelaskan bahwa timnya menemukan ciri anatomi berbeda yang signifikan. Dengan demikian, spesimen itu layak mendapat status genus tersendiri. Pernyataan ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya.
Implikasi bagi Dunia Paleontologi
Temuan Ahshislesaurus wimani membawa implikasi besar. Pertama, temuan ini menunjukkan bahwa keanekaragaman dinosaurus lebih luas dari perkiraan awal. Kedua, penelitian ini menegaskan pentingnya evaluasi berkelanjutan. Ketiga, ilmuwan memperoleh gambaran lebih jelas tentang ekosistem New Mexico purba. Oleh sebab itu, temuan ini menambah koleksi spesies dinosaurus Amerika Utara.
Selanjutnya, ilmuwan dapat memahami pola hidup berkelompok pada hadrosaurid. Mereka juga dapat mempelajari proses evolusi pemakan tumbuhan raksasa. Dengan kata lain, penelitian ini memperkaya pengetahuan manusia. Proses ilmiah terus berkembang. Setiap temuan baru memberi petunjuk lanjutan.
Akhirnya, identifikasi sapi raksasa purba dari New Mexico membuktikan dinamika ilmu pengetahuan. Para peneliti bekerja keras meneliti fosil. Mereka menggunakan metode aktif dan terukur. Temuan ini menegaskan bahwa dinosaurus pemakan tumbuhan memiliki sejarah panjang. Oleh karena itu, ilmuwan terus menggali lapisan waktu purba. Penelitian masa depan menjanjikan kejutan ilmiah baru.