Penanggalan Jawa – menyimpan sistem perhitungan waktu yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda hari, tetapi juga sebagai pedoman dalam memahami karakter, peruntungan, serta kecenderungan kehidupan. Pada Jumat, 9 Januari 2026, hari bertemu dengan pasaran Legi dan bertepatan dengan 20 Rejeb 1959 dalam Tahun Dal, Windu Sancaya, serta berada di Wuku Marakèh. Kombinasi ini menghadirkan makna filosofis yang kuat dan relevan dalam tradisi Jawa.

Masyarakat Jawa memandang pertemuan hari dan pasaran sebagai weton, yang menjadi dasar untuk membaca sifat dasar manusia, kecenderungan rezeki, hingga waktu baik dalam melakukan aktivitas tertentu. Jumat Legi termasuk weton yang sering menarik perhatian karena karakter unik yang menyertainya.

Kalender Jawa menunjukkan Jumat Legi dalam Wuku Marakèh

Ilustrasi nelayan tebar jala. (Foto: Shutterstock)

Karakter Weton Jumat Legi

Weton Jumat Legi memiliki nilai neptu 3. Nilai ini memang tergolong kecil, namun karakter yang muncul justru terlihat kuat. Orang dengan weton Jumat Legi menunjukkan sikap tegas, berpendirian kokoh, dan berani menyampaikan pendapat. Mereka sering menunjukkan emosi secara langsung ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan prinsip hidupnya.

Meskipun bersikap keras, pemilik weton Jumat Legi mampu menjaga keberlangsungan hidup dengan baik. Mereka mampu memenuhi kebutuhan sandang dan pangan secara konsisten. Rezeki memang tidak selalu datang dalam jumlah besar, namun selalu hadir pada saat yang dibutuhkan. Ketahanan hidup menjadi salah satu kekuatan utama weton ini.

Pangarasan Aras Tuding dan Pengaruhnya

Perhitungan pangarasan menempatkan Jumat Legi pada Aras Tuding. Pangarasan ini menggambarkan individu yang sering menerima sorotan dari lingkungan sekitarnya. Sorotan tersebut sering membawa peluang, terutama dalam hal tanggung jawab dan kepercayaan.

Dalam lingkungan kerja, organisasi, maupun sosial, orang dengan weton ini sering memperoleh penunjukan untuk mengemban posisi penting. Mereka menunjukkan kemampuan memimpin, mengambil keputusan, dan bersikap tegas. Namun, Aras Tuding juga membawa konsekuensi. Lingkungan yang sama bisa melontarkan tudingan negatif ketika terjadi kesalahpahaman atau konflik kepentingan. Oleh karena itu, pemilik weton Jumat Legi perlu menjaga sikap dan komunikasi agar tetap seimbang.

Pancasuda Satriya Wirang dalam Kehidupan Sosial

Jumat Legi berada di bawah pengaruh Pancasuda Satriya Wirang. Pancasuda ini mencerminkan pribadi yang menjunjung nilai moral, etika, dan keluhuran budi. Individu dengan pengaruh ini berusaha bertindak benar dan adil dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, perjalanan hidup sering menghadirkan ujian sosial bagi mereka. Lingkungan kadang menempatkan mereka dalam situasi yang memicu rasa malu atau merendahkan martabat. Kondisi ini menuntut kekuatan batin dan keteguhan sikap. Melalui ujian tersebut, pribadi Jumat Legi mengembangkan kedewasaan, kesabaran, serta ketahanan mental yang kuat.

Wuku Marakèh dan Simbol Kehidupan

Wuku Marakèh menaungi hari Jumat Legi dengan simbol Bathara Surènggana. Sosok ini melambangkan sikap menerima ketentuan hidup dengan kesadaran penuh. Individu dalam wuku ini menjalani kehidupan dengan keselarasan antara usaha dan penerimaan.

Simbol gedhong yang dipanggul menggambarkan seseorang yang membawa anugerah hidupnya sendiri. Setiap orang dalam wuku ini menyadari kelebihan dan kekurangan yang melekat pada dirinya. Pohon trengguli melukiskan karakter yang tidak menyukai keramaian serta memilih pola pikir yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka lebih nyaman dalam ketenangan dan refleksi diri.

Umbul-umbul yang terbalik menandakan keberuntungan yang sebenarnya sudah dekat. Namun, individu sering melewatkan peluang tersebut karena kurang menyadarinya. Gambaran bunga setaman yang dirahasiakan mencerminkan sifat hemat, tertutup, dan pandai berbicara. Tutur kata yang lembut sering membantu mereka menjalin hubungan sosial, meskipun mereka perlu berhati-hati dalam menerima nasihat agar tidak salah arah.

Pantangan dan Arah Kehati-hatian

Wuku Marakèh membawa peringatan terkait arah Barat Laut. Dalam periode tujuh hari wuku ini, individu sebaiknya menghindari perjalanan jauh ke arah tersebut, terutama untuk urusan penting. Sikap waspada ini bertujuan menjaga keselamatan dan kelancaran aktivitas hidup.

Jumat Legi Wuku Marakèh dan Waktu Baik Beraktivitas

Tradisi Jawa memandang Jumat Legi di Wuku Marakèh sebagai hari yang baik untuk melakukan aktivitas tertentu, khususnya pemasangan perangkap seperti rajeg, luwang, seser, dan jala. Kegiatan tersebut memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar ketika dilakukan pada hari ini. Kepercayaan ini muncul dari keselarasan energi waktu dengan aktivitas yang bersifat menangkap atau mengumpulkan hasil.

Penutup

Makna Jumat Legi dalam Wuku Marakèh mengajarkan keseimbangan antara ketegasan, kesabaran, dan kewaspadaan. Tradisi Jawa tidak hanya menawarkan penafsiran hari, tetapi juga mengarahkan manusia untuk hidup selaras dengan waktu, lingkungan, dan nilai moral. Dengan memahami filosofi ini, seseorang dapat menjalani kehidupan secara lebih sadar, bijaksana, dan terarah.