Gubernur DKI Jakarta – Pramono Anung menyampaikan bahwa wilayah Jakarta mengalami hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam beberapa hari terakhir. Data pengukuran menunjukkan Jakarta Utara mencatat curah hujan hingga 280 milimeter (mm) pada akhir pekan lalu. Angka tersebut melampaui batas normal curah hujan harian Jakarta.
Pramono menegaskan bahwa angka ini menjadi rekor tertinggi selama masa kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia mulai menjalankan tugas tersebut sejak 20 Februari 2025. Selama periode itu, ia belum pernah melihat curah hujan setinggi yang terjadi kali ini.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Hotel Arya Duta, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).
Intensitas Hujan Melebihi Ambang Batas Aman
Menurut Pramono, hujan dengan intensitas 200 mm saja sudah cukup memicu banjir di Jakarta. Pada kejadian akhir pekan lalu, delapan titik pemantauan di Jakarta Utara mencatat angka di atas ambang tersebut. Beberapa titik bahkan mendekati 280 mm dengan durasi hujan yang berlangsung lama.
Kondisi ini meningkatkan tekanan pada sistem drainase kota. Volume air yang besar dalam waktu singkat membuat saluran air bekerja maksimal. Akibatnya, genangan muncul di sejumlah wilayah, terutama di kawasan dengan kontur rendah dan dekat pesisir.
Hujan Terkonsentrasi di Wilayah Jakarta Utara
Pramono menjelaskan bahwa hujan ekstrem tidak menyebar merata di seluruh Jakarta. Sekitar 80 persen curah hujan terkumpul di wilayah Jakarta Utara. Konsentrasi hujan tersebut menyebabkan daerah ini menjadi wilayah paling terdampak.
Sebanyak 33 Rukun Warga (RW) sempat mengalami genangan akibat tingginya curah hujan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera mengerahkan petugas untuk menangani kondisi tersebut. Pramono memastikan seluruh genangan berhasil ditangani tanpa menimbulkan dampak lanjutan bagi masyarakat.
Pemprov DKI Jalankan Operasi Modifikasi Cuaca
Untuk menekan risiko cuaca ekstrem, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Program ini bertujuan mengendalikan distribusi hujan agar tidak terkonsentrasi di satu wilayah.
Pemprov DKI Jakarta mulai melaksanakan OMC sejak 15 Januari 2026 dan merencanakan program tersebut hingga 22 Januari 2026. Melalui langkah ini, pemerintah berharap dapat mengurangi potensi banjir, khususnya di wilayah rawan genangan dan pesisir.
Sampah di Muara Baru Memicu Perhatian Serius
Selain persoalan hujan ekstrem, Pramono juga menyoroti masalah sampah di kawasan pesisir Muara Baru, Jakarta Utara. Tumpukan sampah terlihat mencemari tanggul laut dan perairan sekitar. Kondisi ini menimbulkan risiko lingkungan dan mengganggu ekosistem pesisir.
Pramono mengingatkan bahwa kebiasaan membuang sampah ke sungai menjadi penyebab utama munculnya sampah di laut. Aliran sungai membawa sampah tersebut hingga ke kawasan pesisir. Ia mengajak warga Jakarta menghentikan kebiasaan tersebut demi menjaga lingkungan bersama.
DLH DKI Jakarta Percepat Penanganan Sampah
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta langsung mengambil langkah cepat. Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyatakan bahwa timnya memulai pembersihan kawasan Tanggul Laut Muara Baru sejak Jumat, 16 Januari 2026.
Pada hari pertama, petugas mengangkut sekitar 35 ton sampah. Hari kedua menambah 25 ton sampah. Hari ketiga mencatat peningkatan signifikan dengan total 77 ton sampah berhasil diangkat dari kawasan tersebut.
Penguatan Sekatan untuk Menahan Sampah
DLH DKI Jakarta memperkuat penanganan dengan mengerahkan sekitar 100 petugas kebersihan. Tim lapangan menggunakan 12 unit ponton, tujuh truk sampah kecil, enam truk besar, dua excavator, dan dua perahu karet.
Selain alat berat, petugas memasang sekatan berbahan High-Density Polyethylene (HDPE) dan bambu. Sekatan ini menahan pergerakan sampah agar tidak menyebar ke area perairan yang lebih luas. Metode tersebut juga mempermudah proses pengumpulan sampah sebelum petugas memuatnya ke armada angkut.
Target Penyelesaian dan Ajakan kepada Masyarakat
DLH DKI Jakarta menargetkan proses pembersihan kawasan Muara Baru selesai dalam lima hari. Total sampah yang terangkut diperkirakan melebihi 200 ton sejak hari pertama penanganan.
Asep Kuswanto mengajak masyarakat berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan. Ia menegaskan bahwa sampah di sungai dan laut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga memperbesar risiko banjir dan kerusakan ekosistem pesisir.
Ia menekankan pentingnya partisipasi warga dalam menjaga kebersihan perairan. Menurutnya, kepedulian masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan Jakarta, terutama saat kota menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.