Panitia menghadirkan arak-arakan budaya yang memadukan tradisi Tionghoa dengan kesenian Nusantara. Peserta parade menampilkan naga liong, barongsai, wushu, dan pencak silat dalam satu rangkaian pertunjukan. Selain itu, kelompok seni tradisional seperti ondel-ondel dan jaran kepang turut memeriahkan suasana. Perpaduan ini menunjukkan proses akulturasi budaya yang tumbuh dan berkembang di Indonesia selama berabad-abad.
Panitia memulai kegiatan dengan long march dari kawasan Gereja Katedral Jakarta menuju Lapangan Banteng. Perwakilan lintas unsur masyarakat membuka parade secara simbolis melalui pemukulan bedug. Rute yang melewati area antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral mempertegas pesan harmoni antarumat beragama. Lokasi tersebut secara visual merepresentasikan toleransi yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
Sejumlah daerah seperti Pontianak, Surakarta, Medan, dan Semarang mengirimkan delegasi seni. Mereka memadukan pertunjukan Tionghoa dengan budaya lokal masing-masing daerah. Partisipasi aktif ini memperluas makna parade sebagai perayaan nasional yang merangkul keberagaman wilayah Indonesia.

Pemerintah Gelar Parade Imlek Nusantara
Ruang Edukasi Kebhinekaan dan Sejarah Bangsa
Stella Christie menyoroti pentingnya ruang kebudayaan sebagai sarana edukasi publik. Ia menjelaskan bahwa bangsa Indonesia membentuk identitasnya melalui proses panjang interaksi dan akulturasi budaya. Oleh karena itu, parade ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mendorong pemahaman sejarah kebhinekaan.
Menurutnya, masyarakat Tionghoa telah memberi kontribusi signifikan dalam perkembangan bahasa, kuliner, seni, hingga perjuangan kebangsaan. Dengan mengangkat narasi tersebut, pemerintah mengajak masyarakat memahami bahwa keberagaman justru memperkaya identitas nasional.
Sinergi Lingkungan dan Digitalisasi UMKM
Selain menggerakkan sektor budaya, Parade Imlek Nusantara 2026 juga mendorong penguatan ekonomi kreatif. Artha Graha Peduli menjalankan program Saber (Sapu Bersih Sampah) untuk menjaga kebersihan lokasi acara. Relawan bergerak aktif di setiap titik kegiatan dan memastikan area tetap bersih sepanjang parade berlangsung. Langkah ini menunjukkan bahwa penyelenggara dapat menggabungkan kemeriahan acara dengan tanggung jawab lingkungan.
Di sektor ekonomi, Bank Artha Graha Internasional memperkenalkan sistem pembayaran berbasis QRIS bagi pelaku UMKM. Bank tersebut juga menawarkan program cashback guna meningkatkan transaksi dan mendorong literasi keuangan digital. Melalui inisiatif ini, pelaku usaha kecil memperoleh peluang untuk memperluas pasar sekaligus beradaptasi dengan sistem pembayaran modern.
Perwakilan manajemen Artha Graha Peduli menegaskan bahwa kolaborasi sektor swasta mendukung agenda nasional secara konkret. Mereka ingin menghadirkan perayaan budaya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga bersih dan berdampak langsung bagi perekonomian masyarakat.
Budaya sebagai Fondasi Pemersatu Bangsa
Sejumlah pejabat nasional turut menghadiri parade dan memberikan dukungan moral terhadap agenda kebudayaan ini. Kehadiran mereka memperlihatkan komitmen pemerintah dalam menjadikan budaya sebagai instrumen pemersatu bangsa.
Secara keseluruhan, Parade Imlek Nusantara 2026 menghadirkan model kolaborasi lintas sektor yang terintegrasi. Pemerintah, komunitas, dan swasta bergerak bersama untuk memperkuat harmoni sosial, menjaga lingkungan, serta mengembangkan ekonomi kreatif berbasis digital. Melalui pendekatan ini, Indonesia menegaskan bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan fondasi nyata dalam membangun masa depan bangsa.