Tenun Kamohu – pada dasarnya, tenun Kamohu dari Kabupaten Buton Tengah di Sulawesi Tenggara hadir sebagai simbol identitas budaya lokal. Secara khusus, kain tradisional ini mencerminkan nilai sejarah dan estetika masyarakat pesisir. Oleh karena itu, promosi tenun Kamohu ke tingkat internasional memiliki arti penting. Dengan demikian, kehadiran budaya daerah dalam forum global memperkuat identitas nasional.

Dalam konteks tersebut, generasi muda Buton Tengah mengambil peran aktif. Secara nyata, seorang pemuda daerah memperkenalkan budaya lokal melalui program internasional. Oleh sebab itu, peran individu menjadi faktor kunci dalam diplomasi budaya. Dengan langkah ini, budaya daerah memperoleh ruang dialog lintas negara.

Pemuda Buton Tengah mempromosikan tenun Kamohu dalam forum budaya di Jepang

Pemuda asal Buton Tengah (Buteng), Zulyamin Kimo (kanan), saat memperkenalkan budaya Buteng di Jepang. Foto: Istimewa.

Keterlibatan Pemuda Daerah dalam Program Internasional

Secara langsung, pemuda asal Buton Tengah bernama Zulyamin Kimo mewakili Indonesia dalam program Islamic Social Expedition: Japan. Selanjutnya, program ini menghadirkan peserta dari berbagai negara. Dengan keterlibatan lintas budaya, program ini membuka ruang interaksi sosial. Oleh karena itu, pertukaran nilai budaya berlangsung secara intensif.

Selain itu, program ini digagas oleh Give Society. Pada saat yang sama, Japan Da’wah Centre turut berperan sebagai mitra. Dengan kolaborasi tersebut, program berjalan secara terstruktur. Kemudian, kegiatan berlangsung selama satu pekan. Dengan jadwal tersebut, peserta mengikuti rangkaian agenda budaya dan sosial.

Indonesia Cultural Talk sebagai Sarana Diplomasi Budaya

Selanjutnya, salah satu agenda utama program yaitu Indonesia Cultural Talk. Pada kesempatan ini, delegasi Indonesia memperkenalkan keberagaman budaya nasional. Dengan forum ini, peserta internasional memperoleh wawasan budaya Indonesia. Oleh karena itu, forum ini berfungsi sebagai media diplomasi budaya.

Dalam sesi tersebut, Zulyamin Kimo mempresentasikan budaya Buton Tengah. Sebagai pembuka, ia memutar video promosi budaya daerah. Dengan media visual, peserta memperoleh gambaran awal. Selain itu, video menampilkan tradisi masyarakat lokal. Dengan tampilan tersebut, pemahaman peserta semakin kuat.

Lebih lanjut, Dinas Pariwisata Buton Tengah menyediakan materi promosi. Pada saat yang sama, Komunitas Buton Tengah Creative menyusun konten visual. Dengan kerja sama ini, materi budaya tersaji secara menarik. Oleh sebab itu, penyampaian budaya menjadi lebih efektif.

Pengenalan Busana Adat sebagai Media Interaksi

Selain media visual, pengenalan budaya dilakukan secara langsung. Dengan pendekatan ini, Zulyamin Kimo menghadirkan berbagai atribut pakaian adat. Misalnya, ia menampilkan jubah adat tenun. Selain itu, ia memperkenalkan sarung Kamohu. Bahkan, ia juga membawa kampurui dan kemeja kasua bernuansa etnik.

Dengan kehadiran busana tersebut, peserta dapat melihat langsung detail kain. Selanjutnya, peserta menyentuh tekstur tenun. Dengan interaksi ini, pengalaman budaya menjadi lebih nyata. Oleh karena itu, keterlibatan peserta meningkat.

Kemudian, kegiatan berlanjut dengan sesi Try On. Dalam sesi ini, peserta mengenakan busana adat Buton Tengah. Dengan pengalaman langsung, dialog budaya berkembang. Pada akhirnya, sesi ini menciptakan suasana interaktif.

Interaksi Lintas Negara dalam Forum Budaya

Dalam sesi tersebut, salah satu peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Secara khusus, peserta asal Amerika Serikat bernama Jason Ramirez mencoba busana adat Buton Tengah. Selanjutnya, ia berdiskusi dengan delegasi Indonesia. Dengan dialog ini, pertukaran pengetahuan budaya berlangsung dua arah.

Selain itu, diskusi membahas makna simbol kain. Pada saat yang sama, diskusi membahas filosofi motif tenun. Dengan pembahasan tersebut, peserta memahami nilai budaya secara mendalam. Oleh sebab itu, forum ini memberikan manfaat edukatif.

Peran Strategis Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya

Secara lebih luas, keterlibatan Zulyamin Kimo mencerminkan peran strategis generasi muda. Dengan partisipasi aktif, pemuda daerah bertindak sebagai duta budaya. Oleh karena itu, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi.

Selain itu, promosi tenun Kamohu memberi dampak positif bagi masyarakat Buton Tengah. Dengan kegiatan ini, rasa bangga daerah meningkat. Pada saat yang sama, generasi muda memperoleh inspirasi. Dengan contoh nyata, kesadaran budaya tumbuh.

Lebih jauh, tenun Kamohu tidak hanya berfungsi sebagai kain. Sebaliknya, tenun ini membawa nilai sejarah. Selain itu, tenun ini mencerminkan nilai sosial dan estetika. Dengan demikian, pelestarian tenun Kamohu memiliki makna luas.

Tenun Kamohu sebagai Identitas Budaya Daerah

Pada akhirnya, tenun Kamohu mencerminkan jati diri masyarakat Buton Tengah. Dengan proses pembuatan yang teliti, kain ini menunjukkan kearifan lokal. Selain itu, motif dan warna menyimpan pesan filosofis. Oleh sebab itu, tenun Kamohu layak mendapat perhatian global.

Dengan kehadiran dalam forum internasional, budaya daerah memperoleh pengakuan. Pada saat yang sama, peserta lintas negara mengenal budaya Indonesia secara langsung. Dengan demikian, budaya lokal hadir dalam diskursus global.

Akhirnya, kegiatan ini memberikan motivasi bagi masyarakat Buton Tengah. Dengan semangat tersebut, generasi muda terdorong menjaga budaya. Oleh karena itu, tenun Kamohu terus berkembang sebagai identitas dan kebanggaan bersama.