Kotagede berdiri sebagai kawasan cagar budaya penting di Yogyakarta. Wilayah tersebut menyimpan jejak sejarah Mataram Islam sejak abad keenam belas. Dahulu, tempat ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Kemudian, lingkungan masyarakat tumbuh dan berkembang bersama tradisi, seni, serta adat istiadat. Oleh sebab itu, Kotagede tidak hanya memamerkan peninggalan fisik, melainkan juga mewariskan identitas kultural kuat bagi warganya. Selanjutnya, kawasan bersejarah berubah menjadi Kampung Wisata Kotagede yang menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah.

Kotagede Yogyakarta sebagai kawasan cagar budaya

Museum Kotagede menggunakan bangunan Rumah Kalang.

 

1. Tradisi Kerajinan Perak

Kerajinan perak menjadi elemen utama budaya Kotagede. Pada mulanya, keterampilan mengolah logam mulia berkembang untuk memenuhi kebutuhan kraton. Setelah itu, para pengrajin berasal dari kalangan abdi dalem yang memiliki tugas khusus memproduksi perhiasan dan peralatan rumah tangga. Ketika kerajaan memindahkan ibu kota, mereka menetap di Kotagede.
Berikutnya, generasi penerus melanjutkan keterampilan tersebut. Hasil karya mengalami transformasi sesuai perkembangan zaman. Saat ini, pengrajin menciptakan berbagai produk kreatif. Contohnya meliputi aksesori modern, miniatur artistik, hiasan interior, hingga suvenir bernilai estetis tinggi. Karena itu, kualitas kerajinan perak Kotagede menembus pasar mancanegara. Bahkan, wisatawan domestik maupun asing rutin mengunjungi galeri untuk melihat proses pembuatan secara langsung. Dengan demikian, sektor kerajinan perak memberi kontribusi besar terhadap ekonomi lokal.

2. Arsitektur Tradisional

Selain kerajinan, budaya Kotagede tampak pada arsitektur rumah tradisional. Pertama, terdapat rumah Joglo yang menjadi simbol arsitektur Jawa khas. Atap Joglo memiliki bentuk punden berundak dan memuncak di bagian tengah bernama brunjung. Selanjutnya, balok penumpu atap disangga konsul yang disebut bahu dhanyang.
Di samping itu, masyarakat mengenal rumah Kalang sebagai gaya arsitektur unik. Bangunan tersebut memadukan unsur tradisional Jawa dengan pengaruh Indisch. Kemudian, perpaduan terlihat dari tata ruang, pintu, jendela, ventilasi, serta ornamen bangunan. Lebih lanjut, ciri khas rumah Kalang terletak pada keberadaan ruang bawah tanah tersembunyi. Pemilik menyamarkan bunker di bawah kolam hias untuk menyimpan barang berharga.
Selanjutnya, halaman rumah lama dibatasi pagar tembok tinggi dengan satu regol utama. Oleh sebab itu, jalan-jalan di perkampungan terapit oleh dinding tembok yang menciptakan suasana kota lama. Kini, pemerintah menetapkan beberapa rumah Kalang sebagai Bangunan Warisan Budaya. Dengan begitu, arsitektur tradisional menjadi daya tarik wisata edukasi serta penelitian sejarah.

3. Kuliner Khas

Kotagede juga mempertahankan warisan kuliner tradisional. Pada masa lalu, makanan khas hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Selanjutnya, sajian tersebut meliputi kipo, legomoro, yangko, ukel banjar, serta kembang waru.
Pertama, kipo menjadi jajanan legendaris yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Mataram Islam. Warga membuat kipo dari tepung ketan hijau dengan isian kelapa dan gula jawa. Selanjutnya, bentuk kecil serta rasa manis gurih menjadikan kipo sebagai ikon kuliner.
Kemudian, legomoro menyerupai lemper yang dibungkus daun pisang. Oleh sebab itu, kuliner tersebut melambangkan keramah-tamahan warga ketika menerima tamu. Selain itu, kembang waru dahulu hanya hadir dalam acara adat keluarga bangsawan. Kini, siapa pun dapat menikmati sajian tersebut dengan mudah.
Karena itu, pasar tradisional Kotagede menjadi pusat pelestarian kuliner. Di tempat ini, pengunjung menemukan beragam jajanan khas. Dengan demikian, kuliner tradisional memperkuat identitas lokal sekaligus mengenalkan sejarah kepada generasi muda.

4. Situs Keraton Lama

Berikutnya, Kotagede menyimpan reruntuhan keraton sebagai bukti kejayaan masa silam. Pertama, terdapat Watu Gilang, Watu Gateng, dan Watu Gentong yang menjadi simbol historis penting. Selanjutnya, sisa Benteng Cepuri masih mengelilingi sebagian kawasan. Oleh sebab itu, situs tersebut memberi nilai besar bagi penelitian arkeologi dan sejarah.
Kini, masyarakat bersama pemerintah menjaga lokasi reruntuhan dengan kesadaran tinggi. Dengan demikian, wisatawan dapat menelusuri jejak Mataram Islam secara langsung. Karena itu, kawasan bekas keraton menjadi ruang edukasi yang menarik minat banyak pengunjung.

5. Masjid Agung Kotagede

Selain situs keraton, Masjid Agung Kotagede menjadi ikon budaya religi paling penting. Masjid tersebut berdiri sejak tahun 1587 pada masa Panembahan Senopati. Selanjutnya, proses pembangunan melibatkan masyarakat setempat dari berbagai latar belakang. Oleh sebab itu, masjid menjadi simbol toleransi dan kebersamaan warga.
Di samping itu, lingkungan masjid mencakup kompleks makam raja-raja Mataram. Kemudian, tempat ini berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan hingga sekarang. Dengan demikian, wisatawan rutin berkunjung untuk ziarah serta wisata sejarah. Karena itu, Masjid Agung Kotagede terus hidup sebagai pusat spiritual masyarakat.