Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) – mengingatkan masyarakat tentang potensi banjir rob di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Fenomena blue moon atau bulan purnama biru memicu peningkatan pasang air laut di sejumlah kawasan pesisir.

BMKG menetapkan periode waspada banjir rob mulai 26 Mei hingga 6 Juni 2026. Selama periode tersebut, masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan genangan air laut.

Fenomena blue moon mencapai puncaknya pada 31 Mei 2026. Peristiwa ini tergolong langka karena dua fase bulan purnama muncul dalam satu bulan kalender. Pada tahun 2026, jumlah fase bulan purnama tercatat sebanyak 13 kali sepanjang tahun.

Meski masyarakat mengenalnya dengan istilah blue moon, warna bulan tidak berubah menjadi biru. Istilah tersebut berasal dari ungkapan bahasa Inggris kuno “once in a blue moon” yang menggambarkan kejadian langka.

Saat fenomena berlangsung, bulan purnama terlihat sejak matahari terbenam hingga menjelang pagi. Kondisi tersebut meningkatkan pengaruh gravitasi bulan terhadap pasang surut air laut.

BMKG Prediksi Pasang Air Laut dan Gelombang Meningkat

Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Satria Topan Primadi, mengatakan bahwa BMKG terus memantau kondisi cuaca dan perairan di wilayah NTB.

BMKG memperkirakan tinggi gelombang laut mencapai 0,5 hingga 2,5 meter. Selain itu, pasang maksimum diprediksi berada di kisaran 1,9 hingga 2 meter pada sejumlah wilayah perairan.

Di kawasan barat Pulau Lombok, pasang air laut diperkirakan berlangsung selama lima jam. BMKG memperkirakan kondisi tersebut terjadi mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WITA.

Sementara itu, wilayah timur Pulau Sumbawa diperkirakan mengalami pasang air laut lebih lama. Kondisi tersebut berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WITA.

Kenaikan pasang air laut dapat memicu genangan di wilayah pesisir. Risiko lebih besar muncul di kawasan dataran rendah yang berada dekat dengan pantai dan bantaran sungai.

BMKG juga memperkirakan arah angin bergerak dari timur hingga selatan. Kecepatan angin berkisar antara 5 hingga 20 knot. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tinggi gelombang laut di sejumlah perairan NTB.

BMKG memperingatkan potensi banjir rob di wilayah NTB

ilustrasi banjir rob.

Wilayah Pesisir di Lombok dan Sumbawa Masuk Zona Rawan

BMKG memasukkan beberapa wilayah pesisir di Pulau Lombok ke dalam daftar kawasan rawan banjir rob. Daerah tersebut meliputi Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru, dan Labuhan Lombok.

Selain itu, BMKG juga mencatat sejumlah wilayah di Pulau Sumbawa sebagai daerah berpotensi terdampak banjir rob. Kawasan tersebut meliputi Labuhan Badas, Palibelo, Woha, Bolo, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu’u, dan Asakota.

Wilayah pesisir tersebut memiliki aktivitas masyarakat yang cukup tinggi. Banyak warga menggantungkan aktivitas ekonomi pada sektor perikanan, perdagangan, dan transportasi laut. Karena itu, kenaikan air laut dapat memengaruhi aktivitas harian masyarakat.

Genangan air laut juga berpotensi mengganggu akses jalan di sekitar kawasan pantai. Selain itu, banjir rob dapat merusak tambak, area pelabuhan, dan permukiman warga yang berada di dekat bibir pantai.

BMKG Minta Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

BMKG meminta masyarakat pesisir agar tetap siaga selama periode potensi banjir rob berlangsung. Warga yang tinggal di bantaran sungai dan dataran rendah juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kenaikan air laut.

Nelayan dan pengguna transportasi laut perlu lebih berhati-hati saat beraktivitas di laut. Gelombang tinggi dapat memengaruhi keselamatan pelayaran, terutama bagi kapal berukuran kecil.

BMKG juga meminta masyarakat rutin memantau perkembangan cuaca dan kondisi laut melalui informasi resmi. Langkah tersebut penting agar warga dapat mengambil tindakan lebih cepat saat kondisi cuaca berubah.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga perlu menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. Upaya tersebut dapat membantu mengurangi dampak banjir rob terhadap aktivitas masyarakat pesisir.

Fenomena blue moon memang menarik perhatian banyak orang karena tergolong peristiwa langka. Namun, masyarakat tetap perlu memahami dampak yang dapat muncul akibat peningkatan pasang air laut.

Dengan meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan, masyarakat dapat mengurangi risiko kerugian akibat banjir rob selama fenomena blue moon berlangsung di wilayah NTB.