DC Charger Di Rumah dapat menjadi solusi bagi pemilik mobil listrik yang membutuhkan proses pengisian baterai lebih cepat. Namun, konsumen perlu menyiapkan kapasitas listrik besar sekaligus investasi yang jauh lebih tinggi daripada penggunaan wall charger AC.

Ninis Ribang, Public Relation PT Tri Energi Berkarya (TEB), menjelaskan bahwa konsumen tetap dapat memasang perangkat pengisian cepat berbasis DC untuk kebutuhan pribadi. Meski begitu, pemilik rumah perlu menghitung kebutuhan daya, kesiapan instalasi listrik, dan biaya perangkat sebelum memilih opsi tersebut.

TEB saat ini menawarkan DC Charger Delta dengan kapasitas paling kecil sekitar 25 kW hingga 30 kW. Menurut Ninis, perangkat pada kelas tersebut membutuhkan pasokan listrik minimal sekitar 33.000 VA.

Kebutuhan daya sebesar itu membuat konsumen tidak bisa menyamakan proses pemasangan DC Charger dengan wall charger AC. Pemilik kendaraan perlu memastikan sistem kelistrikan rumah mampu menyediakan daya yang memadai dan aman.

Selain kapasitas listrik, konsumen juga harus memperhitungkan meteran, instalasi, material, serta berbagai komponen pendukung. Faktor-faktor tersebut membuat pemasangan perangkat DC membutuhkan persiapan dan biaya lebih besar.

Harga DC Charger Mulai Sekitar Rp 130 Juta

Harga perangkat menjadi pertimbangan penting sebelum konsumen memasang DC Charger di rumah. Ninis menyebut harga unit dengan kemampuan tersebut dapat mencapai sekitar Rp 130 juta.

Nominal itu bahkan bisa mendekati harga sebuah mobil. Terlebih lagi, konsumen baru mendapatkan unit mesinnya dengan biaya sekitar Rp 130 juta tersebut.

Dengan demikian, pemilik kendaraan masih harus menyediakan anggaran tambahan. Mereka perlu membeli material pendukung, menyiapkan meteran, mengatur sumber daya listrik, serta membayar kebutuhan instalasi.

Total investasi akhirnya dapat melampaui harga perangkat utama. Kondisi tersebut membuat penggunaan pengisi daya DC kurang ekonomis bagi sebagian besar pemilik satu mobil listrik yang hanya melakukan pengisian baterai di rumah.

Karena karakter tersebut, Ninis menilai penggunaan DC Charger lebih masuk akal pada lokasi yang membutuhkan proses pengisian cepat. Area komersial atau tempat yang melayani banyak kendaraan menjadi contoh penggunaan yang lebih sesuai.

Lokasi seperti itu dapat memanfaatkan kecepatan pengisian untuk melayani kendaraan secara bergantian dalam waktu lebih singkat. Sebaliknya, pemilik rumah biasanya memiliki waktu lebih panjang untuk mengisi baterai kendaraan.

DC Charger di rumah

SPKLU Signature di Summarecon Mall Bekasi (SMB) hadir dengan spesifikasi industrial.

Wall Charger AC Lebih Sesuai untuk Pengisian Semalaman

Wall charger AC tetap menjadi pilihan yang lebih praktis untuk mayoritas pengguna mobil listrik di rumah. Pemilik kendaraan biasanya menghubungkan mobil ke charger pada malam hari ketika kendaraan tidak mereka gunakan.

Menurut Ninis, konsep home charging memang mengutamakan proses pengisian dengan waktu yang relatif panjang. Pengguna dapat mengisi baterai sepanjang malam dan menggunakan kendaraan kembali pada keesokan harinya.

Pola tersebut membuat kecepatan pengisian bukan satu-satunya faktor penting. Konsumen juga perlu mempertimbangkan biaya perangkat, kapasitas listrik rumah, kebutuhan harian, dan jumlah kendaraan yang mereka miliki.

Pemilik satu mobil listrik kemungkinan tidak membutuhkan DC Charger selama wall charger AC masih mampu memenuhi kebutuhan perjalanan sehari-hari. Mereka dapat memanfaatkan waktu istirahat kendaraan untuk mengisi baterai secara rutin.

Situasi berbeda dapat muncul ketika sebuah rumah memiliki dua atau lebih kendaraan listrik. Terlebih lagi, masalah waktu pengisian bisa muncul apabila seluruh kendaraan tersebut beroperasi setiap hari.

Dua Mobil Listrik Bisa Membutuhkan Lebih dari Satu Charger

Kepemilikan dua mobil listrik dalam satu rumah membuat kebutuhan pengisian baterai semakin kompleks. Jika pemilik hanya memasang satu charger, kedua kendaraan harus menggunakan perangkat tersebut secara bergantian.

Kondisi itu tidak selalu menjadi masalah jika pemilik jarang menggunakan salah satu kendaraan. Namun, jadwal pengisian dapat menjadi lebih ketat ketika kedua mobil menjalani aktivitas harian secara bersamaan.

Ninis menjelaskan bahwa pemilik perlu menyesuaikan jumlah charger dengan pola pemakaian mobil. Jika seluruh kendaraan beroperasi setiap hari, satu perangkat mungkin tidak menyediakan waktu pengisian yang cukup.

Sebagai alternatif, konsumen dapat memasang lebih dari satu perangkat home charging apabila sistem kelistrikan rumah mendukung kebutuhan tersebut. Pemilik juga dapat memanfaatkan fasilitas pengisian di kantor atau lokasi lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap charger di rumah.

Keberadaan DC Charger di kantor juga dapat memberikan fleksibilitas tambahan. Pengguna bisa mengisi baterai dengan cepat selama beraktivitas sehingga kebutuhan pengisian pada malam hari menjadi lebih ringan.

Pada akhirnya, keputusan memasang DC Charger di rumah bergantung pada kebutuhan masing-masing pemilik kendaraan listrik. Kecepatan pengisian memang menawarkan keuntungan, terutama bagi konsumen yang memiliki beberapa mobil dan mobilitas tinggi.

Namun, konsumen harus memperhitungkan kebutuhan listrik minimal sekitar 33.000 VA untuk perangkat berkapasitas 25 kW hingga 30 kW. Mereka juga perlu mempertimbangkan harga unit yang mencapai sekitar Rp 130 juta, belum termasuk material dan kebutuhan instalasi lainnya.

Bagi pengguna yang memiliki waktu cukup untuk mengisi baterai sepanjang malam, wall charger AC tetap menawarkan pilihan yang lebih praktis. Sementara itu, DC Charger lebih relevan bagi konsumen dengan kebutuhan pengisian cepat atau lokasi komersial yang melayani banyak kendaraan.