Penanganan Kanker yang tepat dapat membuka peluang bagi pasien untuk memperoleh hasil terapi yang lebih baik. Dokter dapat meningkatkan peluang tersebut melalui diagnosis akurat, pemilihan terapi sesuai kondisi pasien, serta pelayanan kesehatan yang menyeluruh. Karena kanker dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan, tenaga medis juga perlu melibatkan sejumlah disiplin ilmu selama proses perawatan.
Sekretaris II Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) Cabang Jakarta, dr. Eka Widya Khorinal, menekankan pentingnya kerja sama lintas bidang dalam menghadapi penyakit kanker.
Menurut Eka, tenaga kesehatan tidak dapat menangani kanker hanya dengan mengandalkan satu bidang keilmuan. Dokter dari berbagai disiplin perlu berkolaborasi bersama institusi kesehatan dan pihak terkait lainnya. Dalam penerapannya, seluruh pihak harus tetap menempatkan kebutuhan pasien sebagai pusat pelayanan.
Eka menjelaskan bahwa diagnosis dan terapi yang tepat, ditambah pelayanan komprehensif, dapat memberikan kesempatan lebih besar kepada pasien untuk memperoleh hasil pengobatan yang optimal.
Kolaborasi Jadi Bagian Penting Penanganan Kanker
Perhompedin terus mendorong penguatan kolaborasi melalui berbagai kegiatan ilmiah. Salah satunya melalui The 13th Annual Roll-out Of International Conference On Hematology & Medical Oncology atau ROICAM 13.
Forum ilmiah tahunan tersebut membawa tema “Strength in Diversity, Excellence in Care: Because Cancer Is Not the End of Everything.” Tema itu menekankan pentingnya keberagaman keahlian sekaligus kualitas pelayanan dalam menghadapi kanker.
Melalui pendekatan tersebut, tenaga kesehatan, pemerintah, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan dapat menyatukan kemampuan mereka untuk memberikan pelayanan yang lebih terintegrasi kepada pasien.
Kebutuhan terhadap kolaborasi semakin penting karena Indonesia masih menghadapi beban kanker yang tinggi. Eka mengacu pada data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 yang mencatat 408.661 kasus kanker baru di Indonesia. Pada periode yang sama, jumlah kematian akibat kanker mencapai 242.988 orang.
Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus Indonesia hadapi dalam pencegahan, deteksi dini, hingga pengobatan kanker.
Selain itu, Rencana Kanker Nasional 2024–2034 memperkirakan jumlah kasus kanker berpotensi bertambah hingga 63 persen sepanjang periode 2025–2040 apabila berbagai tantangan dalam pengendalian penyakit tersebut tidak segera mendapat penanganan serius.
Banyak Pasien Mengetahui Kanker pada Stadium Lanjut
Keterlambatan diagnosis menjadi persoalan penting lainnya dalam penanganan kanker di Indonesia. Banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika kanker sudah berkembang ke stadium lanjut.
Eka menyampaikan data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan lebih dari 80 persen pasien kanker di Indonesia baru mengetahui diagnosis ketika penyakit sudah mencapai stadium III atau IV.
Situasi tersebut dapat membuat proses pengobatan menjadi jauh lebih kompleks. Dokter tidak hanya perlu menangani tumor, tetapi juga harus memperhatikan dampak penyakit maupun terapi terhadap fungsi organ dan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh.
Karena alasan tersebut, dokter spesialis penyakit dalam bersama tenaga medis dari disiplin lain memegang peranan penting selama pasien menjalani terapi.
Tim multidisiplin dapat membantu menjaga fungsi organ, menangani komplikasi yang muncul akibat kanker maupun efek pengobatan, sekaligus memantau kondisi pasien sepanjang rangkaian terapi.
Pendekatan ini juga memungkinkan dokter menyesuaikan strategi perawatan dengan kebutuhan setiap pasien. Dengan demikian, pelayanan kesehatan tidak semata-mata mengejar keberhasilan mengatasi tumor, tetapi turut mempertimbangkan kondisi fisik serta kualitas hidup pasien.

Ilustrasi kanker Cancer .
Pemerataan Layanan Kanker Masih Menjadi Tantangan
Selain keterlambatan diagnosis, Perhompedin melihat sejumlah tantangan lain yang perlu mendapat perhatian. Indonesia masih menghadapi kesenjangan akses pelayanan kesehatan antarwilayah, keterbatasan tenaga kesehatan, dan persoalan biaya pengobatan.
Kondisi geografis Indonesia juga membuat pemerataan fasilitas dan tenaga medis membutuhkan upaya besar. Karena itu, pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, masyarakat, serta berbagai institusi terkait perlu memperkuat koordinasi untuk memperluas akses pelayanan.
Kolaborasi lintas profesi juga dapat membantu mengubah orientasi pelayanan kanker. Tenaga medis tidak hanya berfokus pada penyakit, tetapi juga memperhatikan kebutuhan pasien secara utuh selama menjalani pengobatan.
Pada saat bersamaan, Indonesia perlu terus memperkuat penelitian berbasis data nasional. Data yang kuat dapat membantu pemerintah dan tenaga kesehatan menyusun kebijakan, menentukan prioritas, serta mengembangkan strategi penanganan kanker sesuai kebutuhan masyarakat.
Eka menilai integrasi layanan kesehatan yang merata dan penelitian berbasis data nasional dapat mendorong transformasi pelayanan kanker di Indonesia. Pendekatan tersebut mengarahkan sistem kesehatan agar tidak sekadar menangani tumor, tetapi juga mempertahankan kualitas hidup pasien.
Diagnosis Tepat dan Pelayanan Menyeluruh Berperan Penting
Pada akhirnya, penanganan kanker membutuhkan rangkaian pelayanan yang saling terhubung. Proses tersebut mencakup diagnosis akurat, pemilihan terapi sesuai kondisi pasien, pengendalian komplikasi, hingga pemantauan kualitas hidup selama maupun setelah pengobatan.
Deteksi pada tahap lebih awal juga dapat membantu dokter menentukan strategi terapi dengan lebih cepat. Oleh sebab itu, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan dan gejala yang perlu mendapat perhatian tetap menjadi bagian penting dalam upaya menghadapi kanker.
Kolaborasi antartenaga kesehatan kemudian melengkapi langkah tersebut dengan memastikan pasien memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medisnya.
Dengan memperkuat diagnosis, terapi, kolaborasi multidisiplin, penelitian, dan pemerataan akses layanan, Indonesia memiliki peluang untuk membangun sistem penanganan kanker yang semakin komprehensif. Pendekatan yang berpusat pada pasien juga dapat membantu pelayanan kesehatan mempertimbangkan tidak hanya pengendalian penyakit, tetapi juga kualitas hidup orang yang menjalani pengobatan.