Night Terror – Fenomena anak yang tiba-tiba berteriak, menangis keras, atau terlihat sangat ketakutan saat tidur sering membuat orang tua merasa panik. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut bahkan dikaitkan dengan hal-hal mistis. Padahal, dari sudut pandang medis, kejadian ini dikenal sebagai night terror, yaitu gangguan tidur yang memiliki penjelasan ilmiah.

Menurut penjelasan Yeni Quinta Mondiani dari Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, night terror termasuk gangguan tidur yang cukup umum terjadi pada anak-anak. Kondisi ini tidak berkaitan dengan hal supranatural, melainkan dengan proses biologis yang terjadi selama tidur.

Memahami night terror secara ilmiah sangat penting bagi orang tua. Pengetahuan ini dapat membantu mereka merespons kondisi anak dengan lebih tenang dan tepat.

Pentingnya Tidur bagi Perkembangan Anak

Tidur memiliki peran yang sangat penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Selama tidur, tubuh melakukan berbagai proses pemulihan fisik sekaligus mendukung perkembangan sistem saraf.

Pada anak-anak, kualitas tidur yang baik berkontribusi terhadap perkembangan kognitif, emosional, serta kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, gangguan tidur dapat memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis anak.

Secara fisiologis, tidur terbagi menjadi dua fase utama, yaitu Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Fase tidur paling dalam terjadi pada tahap ketiga dan keempat NREM. Pada tahap ini tubuh melakukan proses pemulihan energi serta perbaikan jaringan.

Night terror biasanya muncul ketika seseorang mengalami gangguan bangun parsial dari fase tidur NREM. Gangguan ini termasuk dalam kelompok parasomnia, yaitu kondisi ketika seseorang menunjukkan perilaku tidak biasa saat tidur.

night terror pada anak saat tidur malam

Ilustrasi anak. Dosen IPB menjelaskan bahwa night terror merupakan gangguan tidur yang sering membuat anak berteriak atau panik saat tidur.

Karakteristik dan Waktu Terjadinya Night Terror

Night terror umumnya muncul pada awal malam ketika anak baru tertidur. Episode ini sering terjadi sekitar 60 hingga 90 menit setelah anak mulai tidur, yaitu pada sepertiga awal waktu tidur malam.

Saat mengalami night terror, anak dapat menunjukkan berbagai reaksi yang tampak menakutkan bagi orang tua. Anak mungkin tiba-tiba berteriak keras, menangis, atau menunjukkan ekspresi ketakutan.

Selain itu, beberapa anak juga mengalami gejala fisik seperti:

  • Detak jantung yang meningkat

  • Napas yang lebih cepat

  • Keringat berlebih

  • Gerakan tubuh yang gelisah

Dalam kondisi tersebut, anak biasanya sulit dibangunkan. Bahkan ketika orang tua mencoba menenangkan, anak sering tidak memberikan respons yang jelas.

Setelah episode berakhir, anak biasanya tampak kebingungan selama beberapa saat. Namun tidak lama kemudian mereka akan kembali tidur seperti biasa. Pada keesokan harinya, sebagian besar anak tidak mengingat kejadian tersebut.

Faktor Pemicu Night Terror pada Anak

Dalam sebagian besar kasus, night terror tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Kondisi ini biasanya muncul sebagai bagian dari proses perkembangan sistem saraf anak.

Salah satu faktor pemicu yang paling umum adalah kurang tidur. Anak yang mengalami kelelahan berlebihan justru memiliki risiko lebih tinggi mengalami episode night terror.

Selain kurang tidur, beberapa faktor lain juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan ini, seperti:

  • Pola tidur yang tidak teratur

  • Stres atau kelelahan emosional

  • Demam atau kondisi kesehatan tertentu

  • Riwayat gangguan tidur dalam keluarga

Karena itu, menjaga rutinitas tidur yang teratur menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah night terror.

Cara Orang Tua Menghadapi Night Terror

Ketika night terror terjadi, orang tua perlu tetap bersikap tenang. Respons yang tepat dapat membantu mencegah risiko cedera pada anak.

Para ahli menyarankan agar orang tua tidak membangunkan anak secara paksa saat episode berlangsung. Membuat anak terbangun tiba-tiba justru dapat memperburuk kebingungan yang mereka alami.

Sebaliknya, orang tua sebaiknya memastikan lingkungan di sekitar anak tetap aman. Langkah ini penting untuk mencegah anak terjatuh atau mengalami cedera ketika bergerak secara tidak sadar.

Jika kejadian berlangsung berulang, orang tua juga dapat mencatat atau merekam waktu terjadinya episode. Informasi ini dapat membantu tenaga medis dalam melakukan evaluasi lebih lanjut.

Perbedaan Night Terror dan Kejang

Night terror terkadang sulit dibedakan dari kondisi medis lain, terutama kejang. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami perbedaan keduanya.

Night terror biasanya berlangsung lebih lama dan tidak selalu menunjukkan pola gerakan yang sama. Sebaliknya, kejang umumnya terjadi dalam durasi yang lebih singkat dan menunjukkan pola gerakan yang konsisten setiap kali terjadi.

Untuk memastikan diagnosis secara medis, dokter dapat melakukan pemeriksaan electroencephalography (EEG). Pemeriksaan ini bertujuan merekam aktivitas gelombang otak sehingga dokter dapat mengidentifikasi penyebab gangguan yang dialami anak.

Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter jika episode terjadi sangat sering, memiliki pola gerakan yang sama setiap kali muncul, atau menyebabkan cedera pada anak.

Night Terror Biasanya Membaik Seiring Pertumbuhan

Pada banyak anak, night terror merupakan bagian dari perkembangan sistem saraf yang belum sepenuhnya matang. Seiring bertambahnya usia, sistem saraf anak akan berkembang sehingga gangguan ini biasanya berkurang secara alami.

Oleh karena itu, orang tua tidak perlu terlalu khawatir jika anak mengalami night terror sesekali. Hal yang paling penting adalah menjaga kualitas tidur anak serta memahami kondisi tersebut secara rasional.

Dengan pola tidur yang teratur dan lingkungan tidur yang nyaman, sebagian besar anak akan melewati fase night terror tanpa memerlukan penanganan medis khusus.