Hantavirus – kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul laporan wabah yang menyerang penumpang kapal pesiar berbendera Belanda MV Hondius. Virus ini dikenal berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius hingga kematian pada penderitanya.
Hantavirus menyebar melalui hewan pengerat, terutama tikus. Penularan kepada manusia biasanya terjadi ketika seseorang menghirup partikel yang berasal dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah terkontaminasi virus. Karena tingkat bahayanya cukup tinggi, para ilmuwan kini terus mengembangkan teknologi vaksin untuk membantu mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Hingga saat ini, dunia medis belum memiliki obat khusus maupun vaksin resmi untuk melawan infeksi hantavirus. Namun, sejumlah peneliti di Inggris mulai menunjukkan perkembangan baru melalui penelitian vaksin berbasis teknologi mRNA yang dinilai memiliki potensi besar dalam melawan virus tersebut.
Hantavirus dan Risiko Penyakit Pernapasan Serius
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan berat pada manusia. Salah satu dampak paling berbahaya dari infeksi ini adalah gangguan sistem pernapasan yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dalam waktu singkat.
Virus tersebut umumnya berasal dari hewan pengerat yang membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit. Manusia dapat tertular saat menghirup udara yang telah tercemar partikel virus dari kotoran atau cairan tubuh tikus.
Selain menyerang paru-paru, beberapa jenis hantavirus juga dapat memengaruhi fungsi ginjal dan organ tubuh lainnya. Karena itu, para ahli kesehatan terus mengingatkan masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat liar.
Kasus hantavirus sering muncul di beberapa wilayah dunia dan dapat berkembang menjadi wabah apabila tidak ditangani dengan cepat. Tingkat kematian akibat penyakit ini juga tergolong tinggi pada kasus tertentu.

Tabung reaksi berlabel “Positif Hantavirus” dalam ilustrasi ini yang diambil pada 7 Mei 2026.
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius
Perhatian dunia terhadap hantavirus meningkat setelah muncul kasus pada kapal pesiar MV Hondius. Wabah tersebut di duga berasal dari strain Andes, salah satu jenis hantavirus yang termasuk dalam kelompok virus berbahaya.
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization, hingga pertengahan Mei 2026 terdapat 11 kasus yang berkaitan dengan wabah tersebut. Dari jumlah itu, sembilan kasus terkonfirmasi positif virus dan tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia.
Seluruh kasus tersebut terjadi pada penumpang kapal pesiar berbendera Belanda yang melakukan perjalanan di wilayah tertentu. Otoritas kesehatan internasional kini terus memantau perkembangan wabah untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Kasus ini sekaligus memperlihatkan bahwa hantavirus masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di lingkungan yang memiliki risiko paparan hewan pengerat.
Peneliti Inggris Kembangkan Vaksin mRNA Hantavirus
Sejumlah peneliti dari University of Bath kini sedang mengembangkan vaksin mRNA baru untuk melawan salah satu strain hantavirus bernama Hantaan.
Penelitian tersebut sebenarnya sudah berjalan sebelum muncul wabah di kapal pesiar MV Hondius. Tim peneliti mengembangkan teknologi vaksin baru yang menunjukkan hasil cukup menjanjikan dalam uji laboratorium pada hewan.
Ahli kimia dari University of Bath sekaligus CEO EnsiliTech, Asel Sartbaeva, menjelaskan bahwa antigen yang mereka kembangkan memperlihatkan respons imun yang sangat baik terhadap virus Hantaan.
Menurutnya, penelitian tersebut dapat membuka peluang besar dalam pengembangan vaksin hantavirus di masa mendatang. Namun, tim peneliti masih perlu melakukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui apakah teknologi tersebut juga efektif melawan strain Andes yang menyebabkan wabah pada kapal pesiar.
Para ilmuwan mengaku belum dapat memastikan kemampuan vaksin itu dalam melawan semua jenis hantavirus. Meski demikian, mereka tetap optimistis terhadap potensi teknologi tersebut.
Teknologi Ensilikasi Jadi Inovasi Baru
Dalam pengembangan vaksin hantavirus, peneliti menggunakan teknologi baru bernama ensilikasi. Teknologi ini memungkinkan vaksin mRNA bertahan pada suhu yang lebih tinggi di bandingkan vaksin mRNA biasa.
Selama ini, vaksin mRNA umumnya memerlukan penyimpanan pada suhu beku ekstrem agar tetap stabil. Kondisi tersebut sering menjadi tantangan dalam distribusi vaksin ke berbagai wilayah.
Melalui teknologi ensilikasi, tim peneliti berhasil memindahkan penyimpanan vaksin dari suhu minus 70 derajat Celsius ke suhu lemari es sekitar 2 hingga 8 derajat Celsius.
Kemajuan tersebut di nilai penting karena dapat mempermudah proses distribusi dan transportasi vaksin di masa depan. Bahkan, para ilmuwan berharap teknologi tersebut nantinya memungkinkan vaksin tetap stabil pada suhu ruang.
Pemerintah Inggris juga memberikan dukungan terhadap penelitian ini dengan memberikan kontrak pengembangan vaksin mRNA stabil termal pertama di dunia untuk virus Hantaan pada tahun 2024.
Pentingnya Pencegahan dan Pengawasan Penyakit
Munculnya kasus hantavirus kembali mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit dari hewan pengerat. Masyarakat perlu menghindari kontak langsung dengan tikus maupun area yang berpotensi terkontaminasi kotoran hewan tersebut.
Selain itu, pengawasan kesehatan global juga memegang peranan penting dalam mendeteksi wabah sejak dini. Penelitian vaksin dan pengembangan teknologi medis menjadi langkah penting untuk membantu dunia menghadapi ancaman penyakit menular baru.
Meski hingga kini belum tersedia vaksin resmi untuk hantavirus, perkembangan penelitian di Inggris memberikan harapan baru dalam upaya pencegahan penyakit berbahaya tersebut.