Kirab Budaya – Masyarakat Semarang menunjukkan kepedulian terhadap warisan budaya dengan menggelar kirab budaya dalam rangka haul Kiai Sholeh Darat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi peringatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana edukasi sejarah. Selain itu, pemerintah daerah merencanakan kegiatan ini sebagai agenda tahunan.

Rangkaian Kirab Budaya yang Meriah

Sejak pagi hari, warga berkumpul di kawasan Kampung Melayu, Kecamatan Semarang Utara. Selanjutnya, rombongan berjalan menuju Masjid Kiai Sholeh Darat dan melanjutkan perjalanan hingga Lapangan Kuningan.

Peserta kirab menampilkan berbagai unsur budaya yang menarik. Seorang pria mengenakan busana khas menyerupai Kiai Sholeh Darat dan memimpin rombongan dengan menaiki delman. Sementara itu, tokoh agama dan masyarakat mengikuti di belakangnya.

Di sisi lain, kelompok hadroh dan rebana memainkan musik religi yang menambah kemeriahan suasana. Bahkan, beberapa kelompok seni menghias kendaraan untuk menampilkan pertunjukan visual yang lebih atraktif. Dengan demikian, kirab ini menghadirkan hiburan sekaligus nilai budaya yang kuat.

Mengenal Sosok Kiai Sholeh Darat

Untuk memahami makna kegiatan ini, masyarakat perlu mengenal sosok Kiai Sholeh Darat. Ia memiliki nama asli Muhammad Saleh dan lahir sekitar tahun 1820 di Jepara. Namun, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Kiai Sholeh Darat karena ia mengasuh pondok pesantren di wilayah Semarang Utara.

Sebagai ulama, ia aktif menulis kitab di bidang fiqih, tasawuf, dan tafsir. Selain itu, ia menggunakan bahasa Jawa dalam tulisan Arab atau pegon agar masyarakat lebih mudah memahami ajarannya.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Faidlur Rahman fi Bayani Asrarir Qur’an. Karya ini menjadi salah satu tafsir awal yang menggunakan bahasa pegon di Indonesia.

Kiai Sholeh Darat dikenang lewat kirab budaya di Semarang

Kirab budaya Kiai Soleh Darat di Kampung Melayu, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (19/4/2026).

Peran Besar dalam Dunia Pendidikan

Kiai Sholeh Darat berperan besar dalam dunia pendidikan Islam. Ia memilih jalur dakwah dan pendidikan untuk membangun kesadaran masyarakat.

Di satu sisi, ia tidak melakukan perlawanan fisik terhadap penjajah. Namun di sisi lain, ia memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat melalui pengajaran dan tulisan. Dengan cara ini, ia membantu membangun fondasi intelektual dan spiritual masyarakat.

Setelah wafat pada tahun 1903 di Semarang, masyarakat terus mengenang jasanya. Hingga kini, banyak peziarah mengunjungi makamnya di TPU Bergota.

Kirab Budaya sebagai Media Edukasi

Selain menjadi tradisi, kirab budaya juga berfungsi sebagai media edukasi. Pemerintah Kota Semarang memanfaatkan kegiatan ini untuk mengenalkan sejarah perjuangan Kiai Sholeh Darat kepada masyarakat.

Rangkaian acara tidak berhenti pada kirab saja. Sebelumnya, masyarakat mengikuti pengajian. Setelah itu, kirab menjadi acara utama, dan kegiatan berlanjut hingga malam hari.

Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga memahami nilai sejarah dan keagamaan secara lebih mendalam.

Rencana Menjadi Agenda Tahunan

Pemerintah Kota Semarang merencanakan kirab budaya ini sebagai agenda tahunan. Langkah ini bertujuan untuk menjaga pelestarian budaya secara berkelanjutan.

Selain itu, pemerintah juga mengusulkan Kiai Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional. Oleh karena itu, kegiatan seperti kirab ini dapat memperkuat kesadaran masyarakat terhadap jasa tokoh tersebut.

Jika program ini berjalan konsisten, kirab budaya akan menjadi bagian penting dari identitas budaya Semarang.

Kesimpulan

Kirab budaya haul Kiai Sholeh Darat memiliki peran penting dalam melestarikan sejarah dan budaya. Kegiatan ini menggabungkan unsur edukasi, religi, dan hiburan dalam satu rangkaian acara.

Selain itu, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah memperkuat upaya pelestarian budaya. Oleh karena itu, dengan menjadikannya agenda tahunan, kirab budaya ini berpotensi terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.