Punden Bandaralim – Sebuah kawasan yang selama ini di kenal masyarakat sebagai punden di Dusun Bandaralim, Desa Demangan, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, mulai menarik perhatian para peneliti sejarah. Tempat yang sejak lama di anggap memiliki nilai spiritual tersebut kini di duga menyimpan peninggalan arsitektur dari masa klasik Nusantara.

Dugaan tersebut muncul setelah sejumlah artefak di temukan di sekitar lokasi. Benda-benda itu memperlihatkan karakter yang identik dengan elemen bangunan candi, sehingga memunculkan kemungkinan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat aktivitas keagamaan pada masa lampau.

Secara geografis, lokasi punden berada tidak jauh dari permukiman warga. Meski demikian, keberadaannya cukup tersembunyi karena tertutup pepohonan besar yang telah tumbuh selama puluhan tahun. Di sisi kawasan juga mengalir sungai yang terhubung dengan Daerah Aliran Sungai Brantas, jalur air yang sejak masa kerajaan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Artefak Kuno Menjadi Petunjuk Penting

Hasil pengamatan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Nganjuk menunjukkan adanya beberapa benda bersejarah yang layak mendapat perhatian lebih lanjut. Salah satunya berupa bagian puncak bangunan yang memiliki bentuk menyerupai kerucut.

Selain itu, di temukan pula makara, yaitu ornamen yang lazim di gunakan sebagai hiasan pada bangunan suci bercorak Hindu-Buddha. Dalam arsitektur candi di Indonesia, makara biasanya di tempatkan di sisi tangga sebagai elemen dekoratif sekaligus simbolis.

Menurut anggota TACB Nganjuk, Sukadi, keberadaan kedua artefak tersebut bukan merupakan temuan yang biasa di jumpai di kawasan permukiman. Karakteristiknya menunjukkan hubungan erat dengan konstruksi bangunan keagamaan pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.

Karena itu, lokasi punden di nilai memiliki peluang besar sebagai situs arkeologi yang masih menyimpan sisa-sisa struktur bangunan kuno di bawah permukaan tanah. Dugaan tersebut tentu masih memerlukan penelitian lanjutan agar dapat di buktikan secara ilmiah.

Kaitan dengan Prasasti Era Kerajaan Medang

Nilai historis kawasan Bandaralim semakin kuat karena wilayah ini pernah menjadi lokasi di temukannya Prasasti Wwhan. Prasasti tersebut berasal dari masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh sekitar abad ke-10 Masehi dan berisi penetapan wilayah sima atau tanah yang memperoleh hak istimewa dari kerajaan.

Dalam sejarah Nusantara, Raja Dharmawangsa Teguh merupakan penguasa terakhir Kerajaan Medang sebelum munculnya Kerajaan Kahuripan yang di pimpin Airlangga. Hubungan antara kedua tokoh tersebut juga tercatat dalam berbagai kajian sejarah.

Saat ini, Prasasti Wwhan di simpan di Museum Trowulan sebagai salah satu koleksi penting peninggalan sejarah Jawa Timur.

Dalam praktik pemerintahan kerajaan pada masa itu, keberadaan prasasti sering dikaitkan dengan pembangunan kawasan yang memiliki fungsi penting, baik sebagai tempat ibadah maupun pusat aktivitas keagamaan. Oleh sebab itu, di temukannya prasasti di Bandaralim semakin memperkuat dugaan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi lokasi berdirinya bangunan suci.

Tumpukan batu di Punden Bandaralim Nganjuk

Punden Keramat di Bandaralim Nganjuk yang Diduga Sisa Candi Era Dharmawangsa Teguh

Kepercayaan Lokal Menjadi Bentuk Pelestarian

Selama bertahun-tahun masyarakat sekitar memandang punden tersebut sebagai tempat yang memiliki nilai sakral. Kepercayaan yang di wariskan secara turun-temurun membuat warga menjaga kawasan itu dari berbagai aktivitas yang berpotensi merusak keberadaannya.

Dalam perspektif pelestarian budaya, kondisi tersebut justru memberikan manfaat. Banyak situs purbakala mengalami kerusakan akibat penjarahan maupun pembangunan tanpa pengawasan. Sedangkan kawasan Bandaralim relatif tetap terjaga karena masyarakat menghormatinya sebagai tempat yang tidak boleh di ganggu.

Perlindungan yang dilakukan secara tradisional tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan berbagai artefak kuno masih bertahan hingga sekarang dan dapat di teliti oleh para ahli.

Berpotensi Menjadi Warisan Budaya Bernilai Tinggi

Temuan arkeologis di Bandaralim membuka peluang di laksanakannya penelitian yang lebih komprehensif. Penggalian ilmiah di perlukan untuk mengetahui apakah masih terdapat fondasi, dinding, atau struktur lain yang dapat mengungkap bentuk asli bangunan pada masa lalu.

Apabila dugaan mengenai keberadaan candi dapat di buktikan melalui penelitian lanjutan, situs ini berpotensi menjadi salah satu warisan budaya penting di Kabupaten Nganjuk. Selain memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu sejarah dan arkeologi. Keberadaan situs tersebut juga dapat di manfaatkan sebagai sarana pendidikan, pelestarian budaya, serta pengembangan wisata sejarah yang tetap mengedepankan prinsip konservasi.

Penelitian yang berkelanjutan di harapkan mampu membuka lembaran baru mengenai perkembangan peradaban Jawa Timur pada masa Kerajaan Medang. Dengan demikian, situs Bandaralim tidak hanya menjadi bagian dari cerita masyarakat setempat. Tetapi juga menjadi bukti penting perjalanan sejarah Nusantara yang layak di jaga untuk generasi mendatang.