Kronologi Cekcok Satpam Bundaran HI menjadi perhatian publik setelah rekaman insiden yang melibatkan seorang petugas keamanan Halte Transjakarta dan pengendara mobil Alphard beredar luas di media sosial. Peristiwa yang terjadi di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, itu memicu berbagai tanggapan karena memperlihatkan ketegangan di tengah lalu lintas yang padat. Belakangan, petugas keamanan bernama Vicol Harefa menyampaikan penjelasan lengkap mengenai kejadian tersebut melalui sebuah video klarifikasi.
Menurut Vicol, insiden bermula ketika dirinya menjalankan tugas membantu mengatur penyeberangan pejalan kaki di sekitar Bundaran HI. Saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah, pejalan kaki mulai menyeberang sesuai giliran. Namun, sebuah mobil Alphard berwarna hitam di duga tetap melaju dan menerobos lampu merah sehingga melintas di area zebra cross.
Merasa tindakan tersebut membahayakan keselamatan pejalan kaki, Vicol spontan menghampiri kendaraan itu. Ia mengaku mengetuk kaca mobil sambil mengingatkan pengemudi bahwa lampu lalu lintas sudah berubah menjadi merah. Teguran itu menjadi awal terjadinya perselisihan yang kemudian viral di media sosial.
Dugaan Pelanggaran Lampu Merah Memicu Perselisihan
Vicol menjelaskan bahwa mobil tersebut sempat melambat setelah mendapat teguran. Melihat kendaraan berhenti perlahan, ia kembali mendekat dengan maksud memberikan penjelasan kepada pengemudi mengenai dugaan pelanggaran yang terjadi.
Situasi justru berubah menjadi lebih tegang. Tiga orang, termasuk sopir mobil, keluar dari kendaraan dan menghampiri Vicol. Dalam keterangannya, ia mengaku ketiga orang tersebut mendorong tubuhnya saat terjadi adu argumen di pinggir jalan.
Ia memilih tidak melanjutkan perdebatan di lokasi karena khawatir kondisi semakin memanas dan mengganggu arus lalu lintas. Selain itu, banyak pengguna jalan dan pejalan kaki yang masih berada di sekitar Bundaran HI sehingga keributan berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Vicol Mengajak Menyelesaikan Persoalan di Pos Polisi
Untuk menghindari konflik yang lebih besar, Vicol mengajak seluruh pihak menuju pos polisi yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Ia berharap persoalan dapat di selesaikan dengan pendampingan aparat kepolisian.
Dalam perjalanan menuju pos polisi, Vicol mengaku masih menerima dorongan dari ketiga orang tersebut. Ia juga mengatakan bahwa mereka berulang kali menyebut diri sebagai aparat dan meminta persoalan segera di selesaikan di pos polisi.
Setelah tiba di lokasi, suasana di sebut belum sepenuhnya mereda. Menurut Vicol, salah seorang dari mereka kembali menunjukkan kartu tanda anggota sebagai bukti identitas. Meski demikian, ia berusaha menjaga situasi tetap kondusif dengan mengajak semua pihak mencari jalan keluar secara baik-baik.
Vicol sengaja memilih pendekatan yang lebih tenang karena tidak ingin perselisihan berkembang menjadi tindakan yang lebih serius. Ia juga berharap kepala pos polisi dapat membantu menyelesaikan persoalan secara objektif.

Foto: Keributan di kawasan Halte Transjakarta Bunderan HI, Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/7/2026) viral di media sosial.
Kepala Pos Polisi Menilai Tindakan Satpam Tidak Tepat
Di hadapan kepala pos polisi, Vicol memaparkan seluruh rangkaian kejadian. Ia menjelaskan bahwa dirinya menegur pengendara karena menduga kendaraan tersebut melanggar lampu merah ketika pejalan kaki mulai menyeberang.
Namun, setelah mendengar penjelasan tersebut, kepala pos polisi menyampaikan bahwa tindakan mengetuk atau memukul kaca mobil bukan merupakan langkah yang tepat. Menurut Vicol, petugas menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kewenangan melakukan tindakan tersebut meskipun bertujuan mengingatkan pengendara.
Mendengar penjelasan itu, Vicol memilih menerima arahan yang di berikan. Ia menyadari tindakannya dapat menimbulkan kesalahpahaman sehingga memutuskan meminta maaf kepada pihak pengendara.
Meminta Maaf Demi Meredakan Situasi
Vicol mengungkapkan bahwa dirinya akhirnya bersalaman dan menyampaikan permintaan maaf kepada pengendara Alphard. Ia mengaku mengambil keputusan tersebut karena berada seorang diri, sementara lawan bicaranya berjumlah lebih banyak.
Selain itu, ia menyebut pihak pengendara sempat menanyakan perusahaan penyedia jasa keamanan tempatnya bekerja. Menurut pengakuannya, mereka juga mengancam akan melaporkan di rinya agar kehilangan pekerjaan.
Situasi itu membuat Vicol memilih meredam konflik. Ia bahkan menyampaikan permohonan maaf sambil berjanji menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran agar lebih berhati-hati saat menjalankan tugas di area publik.
Meski sudah dua kali bersalaman dan mencium tangan sebagai bentuk penghormatan, Vicol mengaku masih menerima perlakuan yang kurang menyenangkan. Ia mengatakan sopir Alphard sempat memaki di rinya dan menarik kerah bajunya.
Di akhir video klarifikasi, Vicol kembali menyampaikan permintaan maaf apabila tindakannya di anggap keliru. Namun, ia juga menilai pihak lain belum menyampaikan permintaan maaf atas perlakuan yang di terimanya selama perselisihan berlangsung.
Rekaman CCTV Memperlihatkan Jalannya Insiden
Sementara itu, sebuah video kamera pengawas yang di unggah akun Instagram @kabarjakpus24 memperlihatkan kronologi kejadian dari sudut pandang berbeda. Rekaman tersebut menunjukkan sejumlah pejalan kaki menunggu lampu penyeberangan sebelum menyeberang di zebra cross.
Ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah, sebagian besar kendaraan berhenti di belakang garis zebra cross. Vicol yang mengenakan seragam keamanan berwarna kuning kemudian mulai berjalan lebih dulu untuk membantu penyeberangan.
Pada saat yang sama, sebuah mobil hitam tetap melintas tepat di depan petugas keamanan dan pejalan kaki yang mulai bergerak. Vicol langsung mengangkat tangannya sebagai bentuk isyarat kepada pengemudi.
Tidak lama kemudian, mobil tersebut mengurangi kecepatan dan menepi di sisi kiri jalan. Setelah kendaraan berhenti, Vicol berjalan mendekati mobil untuk memberikan teguran. Dari momen itulah perselisihan antara kedua belah pihak akhirnya terjadi dan kemudian menjadi viral di berbagai platform media sosial.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa seluruh pengguna jalan memiliki tanggung jawab untuk mematuhi aturan lalu lintas demi menjaga keselamatan bersama. Di sisi lain, setiap bentuk peneguran juga perlu di lakukan dengan cara yang tepat agar tidak memicu kesalahpahaman maupun konflik yang lebih besar.