Kondisi banjir yang sempat melumpuhkan aktivitas di sejumlah wilayah Jakarta sejak pertengahan pekan kini menunjukkan perkembangan positif. Setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur ibu kota sejak Rabu, 28 Januari 2026, genangan air di berbagai kawasan mulai mengalami penyusutan. Meski demikian, situasi belum sepenuhnya pulih karena sebagian wilayah masih menghadapi genangan akibat luapan sungai.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan pemantauan terhadap wilayah terdampak. Data terbaru menunjukkan bahwa puluhan rukun tetangga (RT) masih berada dalam kondisi tergenang air. Hal ini menandakan bahwa upaya penanganan banjir masih perlu dilakukan secara intensif agar kondisi dapat kembali normal sepenuhnya.
Sebaran Wilayah Terdampak Banjir di Jakarta
Berdasarkan laporan BPBD DKI Jakarta, sebanyak 30 RT masih terendam banjir hingga saat ini. Wilayah Jakarta Timur tercatat sebagai kawasan dengan dampak paling signifikan. Di wilayah tersebut, 22 RT masih mengalami genangan air dengan ketinggian berkisar antara 15 hingga 50 sentimeter. Kondisi ini menyebabkan aktivitas warga belum dapat berjalan normal, terutama di kawasan permukiman yang berada dekat aliran sungai.
Selain Jakarta Timur, genangan air juga masih terpantau di wilayah lain. Jakarta Selatan mencatat satu RT yang belum sepenuhnya terbebas dari banjir, sementara Jakarta Utara masih menghadapi genangan di tujuh RT. Sebaran ini menunjukkan bahwa banjir tidak hanya terpusat di satu wilayah, melainkan menyebar ke beberapa titik strategis di ibu kota.

Banjir merendam permukiman warga di Pejaten Timur, Jakarta Selatan, pascahujan deras melanda Jakarta, Jumat (30/1/2026) pagi.
Faktor Penyebab Banjir dan Luapan Sungai
Luapan sejumlah sungai utama menjadi faktor dominan penyebab banjir kali ini. Kali Ciliwung, Kali Angke, dan Kali Nagrak mengalami peningkatan debit air secara signifikan setelah hujan deras turun secara masif dalam beberapa hari berturut-turut. Kondisi tersebut menyebabkan kapasitas sungai tidak mampu menampung aliran air, sehingga meluap ke kawasan permukiman warga.
Curah hujan ekstrem yang terjadi sejak Rabu lalu memperparah situasi, terutama di wilayah dengan sistem drainase yang terbatas. Air hujan yang tidak terserap dengan baik akhirnya menggenangi jalan, rumah warga, dan fasilitas umum. Kombinasi antara luapan sungai dan sistem drainase yang belum optimal menjadi tantangan utama dalam penanganan banjir di Jakarta.
Dampak Sosial dan Kondisi Pengungsian Warga
Meskipun genangan mulai menyusut, dampak sosial akibat banjir masih dirasakan oleh masyarakat. Ratusan warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka belum sepenuhnya kering atau masih terendam air. Sejumlah lokasi pengungsian masih digunakan, seperti gedung olahraga, masjid, dan sekolah yang dialihfungsikan sebagai tempat penampungan sementara.
Di lokasi pengungsian, warga bertahan sambil menunggu kondisi lingkungan mereka kembali aman. Pemerintah daerah bersama relawan terus menyalurkan bantuan logistik dan memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi. Situasi ini menuntut koordinasi yang baik antarinstansi agar penanganan dampak banjir dapat berjalan efektif dan merata.
Upaya Penanganan dan Pengeringan Genangan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengerahkan tim gabungan dari berbagai instansi untuk mempercepat penanganan banjir. Dinas Sumber Daya Air, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, serta unsur terkait lainnya bekerja secara terpadu di lapangan. Mereka mengoperasikan pompa air dan melakukan pembersihan saluran guna mempercepat proses pengeringan di titik-titik genangan yang tersisa.
Petugas juga melakukan pemantauan debit sungai secara berkala untuk mengantisipasi potensi luapan susulan. Pemerintah menargetkan agar genangan dapat surut dalam waktu secepat mungkin, sehingga warga dapat kembali ke rumah masing-masing dan menjalankan aktivitas seperti biasa.
Imbauan Kewaspadaan bagi Masyarakat
Meski kondisi berangsur membaik, pemerintah tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Potensi genangan susulan masih dapat terjadi, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi. Warga diminta untuk terus memantau informasi resmi dari pemerintah dan tidak ragu menghubungi layanan darurat apabila membutuhkan bantuan.
Kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko lanjutan akibat banjir. Dengan kerja sama antara pemerintah dan warga, diharapkan proses pemulihan pascabanjir dapat berjalan lebih cepat dan dampak yang ditimbulkan dapat ditekan semaksimal mungkin.