Penglipuran Village – Festival ke-13 resmi dibuka pada Kamis, 9 Juli 2026, sebagai salah satu agenda budaya tahunan yang menjadi daya tarik wisata di Kabupaten Bangli, Bali. Festival yang berlangsung selama tiga hari ini kembali menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional, atraksi budaya, hingga pameran produk unggulan masyarakat desa. Mengusung tema “Harmoni Bumi Penglipuran”, penyelenggaraan tahun ini menitikberatkan pada pelestarian warisan budaya. Sekaligus memperkuat identitas Desa Penglipuran sebagai salah satu desa wisata terbaik di Indonesia.

Beragam kegiatan di siapkan untuk memberikan pengalaman budaya yang autentik kepada wisatawan. Tidak hanya menikmati pertunjukan seni, pengunjung juga dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat adat. Melalui beragam produk kerajinan, kuliner, hingga hasil usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang di produksi oleh warga setempat.

Pembukaan Festival Diawali Prosesi Adat yang Sarat Makna

Rangkaian pembukaan festival berlangsung meriah dengan di awali prosesi Peed Aya, sebuah tradisi yang menampilkan iring-iringan masyarakat adat. Sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya Bali. Prosesi tersebut di mulai sekitar pukul 10.30 WITA dan menjadi penanda resmi di mulainya seluruh rangkaian kegiatan festival.

Barisan penari tradisional yang di iringi alunan gamelan Bali atau baleganjur berhasil menciptakan suasana sakral sekaligus meriah. Penampilan tersebut mendapat perhatian wisatawan yang memadati kawasan festival sejak pagi hari.

Bendesa Adat Desa Penglipuran, Wayan Budiarta, menjelaskan bahwa Penglipuran Village Festival kembali di selenggarakan sebagai wadah untuk memperkenalkan kekayaan budaya desa kepada masyarakat luas. Melalui tema “Harmoni Bumi Penglipuran”, panitia ingin mengajak seluruh pengunjung untuk lebih menghargai hubungan harmonis antara manusia, alam, serta nilai-nilai tradisi yang telah di wariskan secara turun-temurun.

Beragam Atraksi Budaya dan Produk UMKM Meramaikan Festival

Selain pertunjukan seni tradisional, festival tahun ini juga menghadirkan pameran berbagai karya seniman lokal yang mencerminkan kreativitas masyarakat Desa Penglipuran. Pengunjung dapat menyaksikan hasil kerajinan tangan, karya seni, hingga produk budaya yang menjadi bagian dari identitas desa.

Tidak hanya itu, area festival turut di ramaikan oleh stan UMKM yang menawarkan beragam produk khas. Mulai dari makanan tradisional, kerajinan bambu, hingga produk kreatif lainnya di pamerkan sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat berbasis pariwisata.

Keikutsertaan pelaku UMKM tidak hanya berasal dari Desa Penglipuran, tetapi juga melibatkan desa-desa di sekitarnya. Langkah ini menjadi bentuk kolaborasi dalam memperkenalkan potensi ekonomi lokal kepada wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang selama festival berlangsung.

Panitia optimistis jumlah pengunjung tahun ini akan mengalami peningkatan. Target kunjungan di perkirakan mencapai sekitar 4.000 hingga 5.000 wisatawan setiap harinya selama penyelenggaraan festival.

peserta Penglipuran Village Festival 2026 mengikuti prosesi budaya Peed Aya yang menampilkan tradisi adat dan kesenian khas Desa Penglipuran, Bali.

Iring-iringan Peed Aya di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, Kamis (9/7/2026).

Lokasi Festival Di pindahkan ke Lapangan Tugu Pahlawan

Salah satu hal yang membedakan Penglipuran Village Festival 2026 di bandingkan tahun-tahun sebelumnya adalah pemilihan lokasi penyelenggaraan. Jika sebelumnya berbagai kegiatan di pusatkan di kawasan depan pura maupun hutan bambu. Kali ini seluruh agenda dipindahkan ke Lapangan Tugu Pahlawan yang berada di sisi selatan desa.

Pemindahan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Panitia ingin memberikan makna yang lebih mendalam dengan menjadikan kawasan bersejarah sebagai pusat aktivitas festival. Lapangan tersebut di kenal sebagai tempat yang memiliki nilai historis penting bagi masyarakat Desa Penglipuran.

Di lokasi itulah Kapten TNI Anak Agung Gede Anom Mudita, salah satu tokoh perjuangan asal Desa Penglipuran, gugur saat menjalankan tugas. Oleh karena itu, penyelenggaraan festival di kawasan tersebut di harapkan mampu mengingatkan masyarakat terhadap jasa para pahlawan sekaligus memperkuat nilai nasionalisme di tengah pelestarian budaya.

Festival Menjadi Sarana Pelestarian Budaya dan Penggerak Pariwisata

Penglipuran Village Festival tidak hanya menjadi agenda hiburan bagi wisatawan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi masyarakat adat. Melalui berbagai pertunjukan seni, prosesi budaya, dan keterlibatan masyarakat lokal, festival ini menjadi media edukasi yang memperkenalkan nilai-nilai budaya Bali kepada generasi muda maupun wisatawan.

Di sisi lain, kegiatan ini turut memberikan dampak positif terhadap sektor ekonomi masyarakat. Kehadiran ribuan wisatawan selama festival berlangsung membuka peluang bagi pelaku UMKM, seniman, hingga pelaku industri pariwisata untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperluas promosi produk lokal.

Dengan menggabungkan unsur budaya, sejarah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, Penglipuran Village Festival 2026 di harapkan semakin memperkuat posisi Desa Penglipuran sebagai destinasi wisata budaya yang mampu mempertahankan tradisi di tengah perkembangan industri pariwisata modern. Festival ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi kreatif serta promosi pariwisata yang berkelanjutan.